Di Desa Abu Al-Tawq, Pulau Farasan Al-Sughra, sekitar 60 kilometer dari Farasan City, garis pantai Jabal Kushkush menyimpan cerita lama tentang kapal-kapal penyelam mutiara yang pernah menjadikannya pelabuhan dan tempat berlabuh. Situs yang dikenal sebagai Kushkush Beach itu berada di Governorate Kepulauan Farasan, Region Jazan.
Seperti dilaporkan kantor berita Saudi SPA pada 16 Oktober 2026, pemandu wisata Othman Humuq menyebut para penyelam mutiara memakai lokasi itu sebagai tempat berlindung yang aman untuk beristirahat, menambatkan perahu, dan membuka cangkang tiram setelah pelayaran di laut. Nelayan setempat, katanya, juga banyak beraktivitas di perairan sekitarnya.
Jabal Kushkush bukan sekadar pantai. Bentang pesisirnya punya formasi geologi khas: gua laut, rongga batu, koridor alami, dan struktur batu besar berbentuk payung setinggi 3 sampai 6 meter. Lingkungannya tetap terjaga, dan kunjungan wisatawan meningkat terutama pada musim dingin.
Pelabuhan lama di jalur mutiara
Dalam catatan yang disampaikan Humuq, Jabal Kushkush berfungsi sebagai pelabuhan dan tempat berlabuh kapal penyelam. Fungsi itu bukan hal kecil di kawasan yang hidup dari laut. Perahu penyelam mutiara berlayar jauh, dan ketika kembali mereka butuh titik yang tenang untuk menambatkan kapal, menurunkan hasil, dan membuka cangkang tiram.
Bukankah masuk akal bahwa pesisir yang terlindung membuat pekerjaan berat itu lebih aman? Para penyelam memakai situs itu untuk beristirahat dan berlindung, lalu membuka tiram setelah pelayaran. Di perairan yang sama, nelayan setempat juga bekerja secara luas. Dua kelompok itu berbagi ruang laut yang sama, meski dengan hasil yang berbeda.
Yang membuat Jabal Kushkush menonjol adalah bentuk lahannya. Gua laut dan rongga batu memberi tempat berlindung alami. Koridor alami menghubungkan bagian-bagian pesisir. Struktur batu berbentuk payung setinggi 3 hingga 6 meter berdiri sebagai penanda bentang yang tidak biasa.
Apakah formasi seperti itu yang dulu membantu perahu menemukan titik labuh? SPA tidak merinci bagaimana struktur batu itu dipakai dalam pelayaran. Yang tercatat hanya bahwa situs ini menjadi pelabuhan dan tempat berlabuh kapal penyelam, serta tempat berlindung yang aman untuk beristirahat dan membuka tiram.
Pulau Farasan Al-Sughra sendiri berada di Governorate Kepulauan Farasan, Region Jazan. Jarak sekitar 60 kilometer dari Farasan City disebut dalam laporan. Desa Abu Al-Tawq menjadi lokasi situs ini. Nama Kushkush Beach dipakai untuk menyebut pantai tersebut.
Pemandu wisata Othman Humuq menjadi sumber keterangan dalam laporan SPA. Dari keterangannya, hubungan Jabal Kushkush dengan ekspedisi penyelaman mutiara tradisional bukan dugaan kosong, melainkan ingatan lokal yang masih disampaikan ke pengunjung. Para penyelam mutiara memakai situs itu sebagai tempat berlindung yang aman, tempat beristirahat, tempat menambatkan perahu, dan tempat membuka cangkang tiram seusai pelayaran.
Bagaimana sebuah pantai bisa menyimpan tiga peran sekaligus: pelabuhan, tempat berlindung, dan tempat membuka hasil laut? Jawabannya ada pada bentuk pesisirnya. Gua laut, rongga batu, koridor alami, dan batu payung menciptakan ruang yang tidak seragam. Sebagian ruang memberi naungan, sebagian memberi jalur, sebagian lagi menjadi penanda visual.
Lingkungan yang terjaga menjadi daya tarik lain. SPA menyebut Jabal Kushkush mempertahankan lingkungannya yang masih alami. Karena itu, situs ini terus menarik pengunjung dan wisatawan yang mencari pesisir yang belum tersentuh. Kunjungan meningkat terutama pada musim dingin.
Apakah musim dingin menjadi waktu terbaik karena suhu lebih nyaman, atau karena laut lebih tenang? Laporan SPA tidak menjelaskan alasannya. Yang disebut hanya peningkatan kunjungan pada musim dingin. Tidak ada angka kunjungan, tidak ada data kapasitas, dan tidak ada rincian fasilitas di lokasi.
Yang jelas, Jabal Kushkush berdiri di persimpangan dua cerita. Satu cerita tentang ekonomi laut masa lalu, ketika penyelam mutiara dan nelayan bekerja di perairan yang sama. Satu cerita lagi tentang wisata pesisir masa kini, ketika pengunjung datang untuk formasi geologi dan lingkungan yang terjaga.
Bukankah warisan maritim sering bertahan justru karena bentuk lahannya tidak berubah? Gua laut dan rongga batu tidak bisa dipindahkan. Koridor alami tidak bisa dibuat ulang. Batu payung setinggi 3 sampai 6 meter tetap menjadi penanda yang sama seperti ketika perahu penyelam mencari tempat berlabuh.
Dalam laporan SPA, tidak ada penyebutan tanggal ekspedisi, jumlah penyelam, jenis tiram, atau hasil tangkapan. Tidak ada pula nama kapal atau jalur pelayaran. Yang tersedia hanya keterangan bahwa situs itu pernah menjadi pelabuhan dan tempat berlabuh yang vital bagi kapal penyelam, dan bahwa para penyelam memakainya untuk beristirahat, berlindung, serta membuka tiram.
Nelayan setempat juga disebut beroperasi secara luas di perairan Jabal Kushkush. Ini menunjukkan bahwa pesisir itu bukan tempat sepi. Ada aktivitas berulang: perahu datang, berlabuh, orang bekerja, hasil dibuka, lalu perahu kembali. Pola itu membentuk hubungan antara manusia dan tempat.
Apakah hubungan semacam itu masih terlihat hari ini? SPA tidak menyebut apakah nelayan masih beroperasi dengan pola yang sama. Laporan hanya menyatakan bahwa nelayan setempat juga beroperasi secara luas di perairan tersebut, tanpa merinci waktu atau skala.
Yang bisa dipastikan dari laporan adalah lokasi dan bentuknya. Jabal Kushkush berada di Desa Abu Al-Tawq, Pulau Farasan Al-Sughra, sekitar 60 kilometer dari Farasan City, di Governorate Kepulauan Farasan, Region Jazan. Pesisirnya memiliki gua laut, rongga batu, koridor alami, dan struktur batu besar berbentuk payung setinggi 3 hingga 6 meter.
Nama Kushkush Beach dipakai secara umum. Situs ini dikenal karena formasi geologisnya yang khas. Lingkungannya tetap asri. Pengunjung dan wisatawan datang untuk menikmati pesisir yang belum tersentuh, dengan kunjungan yang lebih ramai pada musim dingin.
Bagaimana sebuah tempat bisa menjadi saksi pelayaran mutiara sekaligus tujuan wisata alam? Mungkin karena keduanya bergantung pada hal yang sama: pesisir yang memberi perlindungan. Dulu perlindungan itu untuk perahu dan penyelam. Kini perlindungan itu, dalam bentuk lanskap yang terjaga, menarik orang untuk melihatnya.
Othman Humuq, sebagai pemandu wisata, menyampaikan keterangan tentang masa lalu situs itu. Keterangan itu menjadi jembatan antara warisan maritim dan kunjungan modern. Para penyelam mutiara memakai Jabal Kushkush sebagai tempat berlindung yang aman, tempat beristirahat, tempat menambatkan perahu, dan tempat membuka cangkang tiram setelah pelayaran.
Apakah ada bukti fisik yang tersisa dari aktivitas itu? SPA tidak menyebut temuan arkeologis, bangunan, atau artefak. Yang disebut adalah fungsi situs pada masa lalu dan bentuk geologi yang masih ada. Tidak ada klaim tentang sisa perahu, alat penyelam, atau tumpukan cangkang.
Karena itu, hubungan Jabal Kushkush dengan warisan maritim Farasan terletak pada fungsi dan bentuk. Fungsi sebagai pelabuhan dan tempat berlabuh kapal penyelam. Fungsi sebagai tempat berlindung, istirahat, dan membuka tiram. Bentuk sebagai pesisir dengan gua laut, rongga batu, koridor alami, dan batu payung setinggi 3 sampai 6 meter.
Farasan Al-Sughra, pulau tempat situs ini berada, menjadi bagian dari Governorate Kepulauan Farasan di Region Jazan. Jarak sekitar 60 kilometer dari Farasan City menunjukkan bahwa situs ini tidak berada di pusat kota. Namun, laporan SPA tidak merinci bagaimana pengunjung mencapainya atau berapa lama perjalanan dari Farasan City.
Musim dingin disebut sebagai waktu dengan kunjungan yang meningkat. Tidak ada angka, tidak ada perbandingan antarmusim, dan tidak ada proyeksi. Yang ada hanya keterangan bahwa footfall meningkat terutama pada musim dingin, dan bahwa situs itu terus menarik pengunjung serta wisatawan yang mencari pesisir yang masih alami.
Bukankah pesisir yang terjaga sering menjadi magnet bagi wisatawan? Namun, laporan SPA tidak menyebut aturan kunjungan, batas kapasitas, atau upaya konservasi tertentu. Yang disebut hanya bahwa lingkungannya tetap terjaga. Tidak ada penjelasan tentang siapa yang menjaga atau bagaimana penjagaan itu dilakukan.
Dengan demikian, Jabal Kushkush tampil sebagai tempat yang menghubungkan dua zaman. Zaman ketika perahu penyelam mutiara mencari tempat berlabuh dan berlindung. Zaman ketika pengunjung datang untuk melihat gua laut, rongga batu, koridor alami, dan batu payung. Penghubungnya adalah pesisir yang sama, di Desa Abu Al-Tawq, Pulau Farasan Al-Sughra.
Apakah warisan maritim Farasan bisa dipahami tanpa melihat bentuk pesisirnya? Laporan SPA menunjukkan bahwa bentuk pesisir adalah bagian dari cerita. Gua laut dan rongga batu memberi perlindungan. Koridor alami memberi akses. Batu payung setinggi 3 sampai 6 meter memberi penanda. Semua itu mendukung fungsi situs sebagai pelabuhan dan tempat berlabuh.
Keterangan Othman Humuq menambahkan dimensi manusia. Para penyelam mutiara tidak hanya berlabuh, tetapi juga beristirahat dan membuka tiram di sana. Nelayan setempat juga beroperasi di perairan itu. Jadi, Jabal Kushkush adalah ruang kerja, ruang istirahat, dan ruang pengolahan hasil laut dalam satu bentang pesisir.
Kini, ruang itu juga menjadi ruang kunjungan. Pengunjung dan wisatawan datang untuk pesisir yang belum tersentuh. Musim dingin menjadi waktu yang lebih ramai. Tidak ada rincian tentang jumlah pengunjung, asal pengunjung, atau kegiatan yang mereka lakukan di sana.
Yang tidak disebutkan SPA juga perlu dicatat. Tidak ada nilai ekonomi, tidak ada proyek pengembangan, tidak ada rencana infrastruktur, dan tidak ada pernyataan pejabat. Tidak ada tanggal ekspedisi mutiara, tidak ada nama kapal, dan tidak ada jumlah penyelam. Tidak ada penjelasan tentang jenis batu atau proses geologis yang membentuk struktur payung.
Dengan keterbatasan itu, gambaran yang tersisa tetap kuat. Jabal Kushkush adalah pesisir di Desa Abu Al-Tawq, Pulau Farasan Al-Sughra, sekitar 60 kilometer dari Farasan City. Di sana ada gua laut, rongga batu, koridor alami, dan batu payung setinggi 3 sampai 6 meter. Di sana pula, menurut keterangan pemandu wisata Othman Humuq, kapal penyelam mutiara pernah berlabuh dan berlindung.
Hubungan antara Jabal Kushkush dan warisan maritim Farasan karena itu bersandar pada fungsi yang disebutkan dan bentuk yang masih ada. Pelabuhan, tempat berlabuh, tempat berlindung, tempat istirahat, tempat membuka tiram, dan perairan tempat nelayan beroperasi. Semua itu berada dalam satu lanskap pesisir yang kini juga menarik kunjungan wisata, terutama pada musim dingin.
Di mana Jabal Kushkush berada? Apa yang membuat lokasinya penting? Jabal Kushkush berada di Desa Abu Al-Tawq, Pulau Farasan Al-Sughra, sekitar 60 kilometer dari Farasan City, di Governorate Kepulauan Farasan, Region Jazan. Situs yang dikenal sebagai Kushkush Beach itu penting karena pesisirnya pernah menjadi pelabuhan dan tempat berlabuh kapal penyelam mutiara. Pemadu wisata Othman Humuq menyebut para penyelam memakainya untuk beristirahat, berlindung, dan membuka cangkang tiram setelah pelayaran. Nelayan setempat juga beroperasi luas di perairan sekitarnya.
Formasi geologi apa yang ada di pesisir Jabal Kushkush? SPA menyebut pesisir Jabal Kushkush memiliki gua laut, rongga batu, koridor alami, dan struktur batu besar berbentuk payung setinggi 3 sampai 6 meter. Formasi itu menjadi ciri khas situs yang dikenal sebagai Kushkush Beach. Lingkungannya tetap terjaga, sehingga situs ini terus menarik pengunjung dan wisatawan yang mencari pesisir yang belum tersentuh. Laporan tidak merinci proses geologis pembentukannya atau jenis batuan yang menyusun struktur payung tersebut.
Bagaimana Jabal Kushkush terhubung dengan ekspedisi penyelaman mutiara tradisional? Menurut keterangan pemandu wisata Othman Humuq, pesisir Jabal Kushkush pernah menjadi pelabuhan dan tempat berlabuh vital bagi kapal penyelam mutiara. Para penyelam memakai situs itu sebagai tempat berlindung yang aman untuk beristirahat, menambatkan perahu, dan membuka cangkang tiram setelah pelayaran. Nelayan setempat juga beroperasi secara luas di perairan itu. SPA tidak menyebut tanggal ekspedisi, jumlah penyelam, jenis tiram, atau hasil tangkapan dari aktivitas tersebut.
Kapan kunjungan ke Jabal Kushkush meningkat dan mengapa? SPA menyebut kunjungan ke Jabal Kushkush meningkat terutama pada musim dingin. Situs ini terus menarik pengunjung dan wisatawan yang mencari pesisir yang masih alami dan belum tersentuh. Lingkungannya yang terjaga menjadi daya tarik utama. Laporan tidak menjelaskan alasan pasti peningkatan musiman itu, tidak menyebut angka kunjungan, dan tidak merinci fasilitas atau aturan kunjungan di lokasi tersebut.
Apa peran nelayan setempat di perairan Jabal Kushkush? SPA menyebut nelayan setempat juga beroperasi secara luas di perairan Jabal Kushkush. Keterangan itu disampaikan pemandu wisata Othman Humuq bersama penjelasan tentang para penyelam mutiara yang memakai situs sebagai tempat berlindung, beristirahat, menambatkan perahu, dan membuka cangkang tiram. Laporan tidak merinci jenis tangkapan, skala operasi, atau apakah pola aktivitas nelayan masih sama seperti pada masa pelayaran mutiara.
Apa yang tidak disebutkan SPA tentang Jabal Kushkush? SPA tidak menyebut nilai ekonomi, proyek pengembangan, rencana infrastruktur, atau pernyataan pejabat terkait Jabal Kushkush. Tidak ada tanggal ekspedisi mutiara, nama kapal, jumlah penyelam, jenis tiram, atau hasil tangkapan. Laporan juga tidak merinci temuan arkeologis, artefak, aturan konservasi, kapasitas kunjungan, atau cara pengunjung mencapai situs dari Farasan City. Yang tersedia hanya lokasi, bentuk geologi, fungsi masa lalu, dan keterangan pemandu wisata Othman Humuq.