Jazan memiliki empat gaya arsitektur utama yang tercatat sebagai rekam jejak perkotaan: Arsitektur Pesisir Tihama, Arsitektur Kaki Bukit Tihama, Arsitektur Pegunungan Sarawat, dan Arsitektur Kepulauan Farasan. Keempatnya tersebar dari pesisir Laut Merah dan dataran Tihama hingga kaki bukit, Pegunungan Sarawat, dan Kepulauan Farasan.
Seperti dilaporkan kantor berita Saudi SPA pada 6 Oktober 2026, arsitektur di Wilayah Jazan merupakan rekaman urban yang mencerminkan keragaman lingkungan dan kekhasan konstruksinya. Keragaman itu tidak muncul di ruang kosong, melainkan mengikuti geografi setempat sehingga ciri bangunan berbeda dari satu zona ke zona lain.
Di sepanjang dataran pesisir, Arsitektur Pesisir Tihama berkembang di lingkungan yang dipengaruhi iklim Laut Merah. Gaya ini menampilkan bangunan bertingkat rendah, mulai dari tempat tinggal berbahan alang-alang dan gubuk tanah hingga rumah batu. Bukankah pilihan bahan bangunan yang berbeda-beda itu sendiri sudah menjadi catatan tentang bagaimana manusia menyesuaikan diri dengan alam?
Arsitektur Kaki Bukit Tihama memadukan pengaruh pesisir dan pegunungan. Gaya ini menggunakan batu dan plester lokal, atap datar, serta bukaan kecil. Perpaduan dua dunia itu menunjukkan bahwa batas antara dataran rendah dan dataran tinggi tidak pernah benar-benar tegas dalam praktik membangun.
Arsitektur tradisional di pegunungan ditandai struktur yang padat dan rangka batu, memakai batu lokal yang warnanya berkisar dari hitam dan cokelat hingga abu-abu dan putih. Kepadatan bangunan di wilayah pegunungan tentu bukan kebetulan, melainkan jawaban atas kondisi medan dan iklim setempat.
Di Kepulauan Farasan, arsitektur mengambil karakter tersendiri yang dibentuk lingkungan laut. Batu karang, plester lokal, dan batu alam digunakan dalam konstruksi. Bagaimana mungkin bahan-bahan yang tersedia di sekitar pulau justru melahirkan wajah arsitektur yang paling khas?
Keempat gaya itu kini dibawa ke desain modern. Jazan Municipality, melalui Saudi Architecture Unit, mengambil inspirasi dari ciri-ciri tersebut dan mengembangkannya sesuai kebutuhan proyek-proyek baru. Artinya, warisan membangun tidak berhenti sebagai catatan masa lalu, tetapi menjadi rujukan kerja perencanaan saat ini.
Pertanyaannya, sejauh mana ciri-ciri itu dipertahankan ketika proyek baru dibangun? SPA tidak merinci proyek mana yang sudah memakai pendekatan tersebut, tidak menyebut lokasi spesifik, jumlah bangunan, maupun jadwal pelaksanaan. Rilis juga tidak memuat nama pejabat, angka, atau contoh bangunan tertentu di tiap gaya.
Yang tersaji adalah pemetaan empat gaya berdasarkan lingkungan: pesisir, kaki bukit, pegunungan, dan kepulauan. Dari pemetaan itu terlihat bahwa arsitektur Jazan bukan satu gaya tunggal, melainkan kumpulan jawaban atas kondisi alam yang berbeda-beda. Apakah keragaman semacam ini bisa dipertahankan ketika pembangunan bergerak makin cepat?
Pada akhirnya, catatan SPA menempatkan arsitektur sebagai penanda lingkungan. Pesisir berbicara tentang iklim Laut Merah, kaki bukit tentang perpaduan dua zona, pegunungan tentang batu dan kepadatan, serta Farasan tentang laut dan batu karang. Bagaimana keempatnya akan tampil dalam desain baru masih menjadi pertanyaan yang jawabannya belum disertakan dalam rilis.
Apa saja empat gaya arsitektur Jazan? Empat gaya itu adalah Arsitektur Pesisir Tihama, Arsitektur Kaki Bukit Tihama, Arsitektur Pegunungan Sarawat, dan Arsitektur Kepulauan Farasan. SPA menyebut keempatnya tersebar dari pesisir Laut Merah dan dataran Tihama hingga kaki bukit, Pegunungan Sarawat, dan Kepulauan Farasan. Pembagian ini menunjukkan bahwa ciri bangunan mengikuti geografi setempat, bukan satu pola tunggal yang berlaku di seluruh wilayah.
Bagaimana ciri Arsitektur Pesisir Tihama? Gaya ini berkembang di dataran pesisir yang dipengaruhi iklim Laut Merah. Bangunannya bertingkat rendah, mulai dari tempat tinggal berbahan alang-alang dan gubuk tanah hingga rumah batu. SPA tidak menyebut jumlah bangunan atau lokasi spesifik untuk gaya ini. Keragaman bahan itu memperlihatkan penyesuaian terhadap kondisi pesisir, sekaligus menandai bahwa arsitektur Tihama tidak seragam meski berada dalam satu zona lingkungan.
Apa yang membedakan Arsitektur Kaki Bukit Tihama? Gaya ini memadukan pengaruh pesisir dan pegunungan. Bahannya batu dan plester lokal, dengan atap datar serta bukaan kecil. SPA menempatkannya sebagai gaya tersendiri di antara pesisir dan pegunungan. Perpaduan itu menunjukkan bahwa wilayah kaki bukit menjadi titik temu dua tradisi membangun. Rilis tidak menyebut contoh bangunan tertentu, jumlah struktur, atau periode perkembangannya.
Bagaimana arsitektur di Pegunungan Sarawat? Arsitektur tradisional di pegunungan ditandai struktur yang padat dan rangka batu. Batu lokal yang dipakai warnanya berkisar dari hitam dan cokelat hingga abu-abu dan putih. SPA tidak merinci teknik pemasangan atau ukuran bangunan. Kepadatan struktur dan pilihan batu lokal itu menjadi ciri yang membedakannya dari gaya pesisir maupun kaki bukit dalam pemetaan empat gaya arsitektur Jazan.
Apa keistimewaan arsitektur Kepulauan Farasan? Di Kepulauan Farasan, arsitektur mengambil karakter tersendiri yang dibentuk lingkungan laut. Batu karang, plester lokal, dan batu alam digunakan dalam konstruksi. SPA tidak menyebut jumlah bangunan atau lokasi spesifik di kepulauan itu. Pemanfaatan batu karang menunjukkan bahwa bahan yang tersedia di sekitar pulau menjadi dasar pilihan konstruksi, sehingga wajah arsitekturnya berbeda dari gaya daratan Jazan.
Bagaimana gaya lama itu dipakai untuk desain baru? Jazan Municipality, melalui Saudi Architecture Unit, mengambil inspirasi dari ciri-ciri tersebut dan mengembangkannya sesuai kebutuhan proyek-proyek baru. SPA tidak merinci proyek mana yang sudah memakai pendekatan ini, tidak menyebut lokasi, jumlah bangunan, maupun jadwal. Karena itu, bentuk penerapan keempat gaya arsitektur Jazan dalam pembangunan terkini belum dapat dipastikan dari rilis tersebut.





