Menteri Energi sekaligus Menteri Perindustrian dan Sumber Daya Mineral Pangeran Abdulaziz bin Salman bin Abdulaziz menggelar pertemuan di Jeddah dengan Menteri Perubahan Iklim dan Energi Australia Chris Bowen. Pertemuan itu membahas peluang kerja sama aksi iklim dan upaya bersama terkait Konferensi Para Pihak ke-31 Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Perubahan Iklim (COP31) yang dijadwalkan berlangsung di Türkiye pada November tahun ini.
Seperti dilaporkan kantor berita Saudi SPA pada 28 September 2026, diskusi kedua menteri berfokus pada upaya memajukan tujuan dan prinsip Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim serta Perjanjian Paris. Kedua pihak mengarah pada hasil yang inklusif, seimbang, dan praktis dengan mempertimbangkan kondisi nasional masing-masing negara anggota.
Dalam pertemuan itu, kedua sisi juga meninjau inisiatif dan upaya Arab Saudi untuk menangani dampak perubahan iklim. Cakupan pembahasan meliputi penyebaran energi terbarukan, pengelolaan emisi, pengurangan dan penghilangan emisi, Saudi Green Initiative, serta penerapan pendekatan Ekonomi Karbon Sirkular beserta teknologinya dan berbagai program serta inisiatif nasional dan regional lainnya.
Sebagai bagian dari kunjungannya, Menteri Bowen meninjau Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya Shuaibah, salah satu proyek terbesar di bawah Program Energi Terbarukan Nasional Arab Saudi. Kunjungannya juga mencakup tur ke Jeddah Bersejarah, salah satu destinasi budaya dan pariwisata terkemuka Kerajaan, serta kunjungan ke King Abdullah University of Science and Technology (KAUST). Di KAUST, ia mendapat penjelasan mengenai lingkungan riset dan program akademik universitas tersebut di bidang sains, teknik, dan bioteknologi.
Pertemuan di Jeddah ini menempatkan dua portofolio yang berbeda dalam satu meja: energi dan iklim. Di satu sisi, Arab Saudi mengelola sektor energi yang menjadi tulang punggung ekonominya. Di sisi lain, Australia datang dengan mandat perubahan iklim dan energi. Bukankah pertemuan semacam ini justru menjadi ruang paling realistis untuk menguji apakah komitmen iklim dapat berjalan seiring dengan kepentingan energi masing-masing negara?
Yang menarik, agenda COP31 menjadi salah satu titik utama pembicaraan. Konferensi itu dijadwalkan berlangsung di Türkiye pada November tahun ini. Bagi kedua negara, COP31 bukan sekadar forum tahunan. Di sana, arah kebijakan iklim global akan kembali diuji, termasuk seberapa jauh negara-negara penghasil energi besar bersedia menyesuaikan langkah mereka. Pertanyaannya, mampukah COP31 menghasilkan keputusan yang tidak hanya ambisius di atas kertas, tetapi juga dapat dijalankan oleh negara dengan kondisi nasional yang berbeda-beda?
SPA menyebut diskusi kedua menteri menyoroti pentingnya memajukan tujuan dan prinsip Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim dan Perjanjian Paris. Keduanya menginginkan hasil yang inklusif, seimbang, dan praktis. Kata “praktis” di sini penting. Dalam banyak perundingan iklim, kesepakatan sering tersandung karena target dianggap tidak mempertimbangkan kemampuan riil setiap negara. Dengan menekankan kondisi nasional masing-masing anggota, kedua menteri tampaknya ingin memastikan bahwa hasil COP31 tidak menjadi beban yang tidak proporsional bagi negara berkembang maupun negara penghasil energi. Namun, apakah pendekatan seperti ini akan diterima semua pihak di meja perundingan?
Dari sisi Arab Saudi, sejumlah inisiatif yang dipaparkan dalam pertemuan itu menunjukkan bahwa Kerajaan tidak hanya berbicara soal pengurangan emisi, tetapi juga soal pengelolaan dan penghilangan emisi. Penyebaran energi terbarukan menjadi salah satu pilar yang disebut. Begitu pula Saudi Green Initiative, yang menjadi payung berbagai program lingkungan di dalam negeri. Pendekatan Ekonomi Karbon Sirkular beserta teknologinya juga masuk dalam pembahasan, bersama program dan inisiatif nasional serta regional lainnya. Bukankah ini menunjukkan bahwa narasi iklim Arab Saudi bergerak di beberapa jalur sekaligus, bukan hanya satu?
Pendekatan Ekonomi Karbon Sirkular sendiri menjadi salah satu kerangka yang sering dikaitkan dengan posisi Arab Saudi dalam diskusi iklim global. Kerangka ini menempatkan karbon sebagai sumber daya yang dapat dikelola, dikurangi, digunakan kembali, dan dihilangkan, bukan sekadar objek yang harus ditekan produksinya. Dalam pertemuan dengan Menteri Bowen, pendekatan itu disebut bersama teknologi-teknologinya. Pertanyaannya, seberapa jauh mitra internasional seperti Australia tertarik mengadopsi atau mendukung pendekatan ini dalam arsitektur kebijakan iklim global?
Kunjungan Menteri Bowen tidak berhenti di ruang pertemuan. Ia meninjau Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya Shuaibah, yang oleh SPA disebut sebagai salah satu proyek terbesar di bawah Program Energi Terbarukan Nasional Arab Saudi. Proyek ini menjadi contoh konkret bagaimana Arab Saudi membangun kapasitas energi terbarukan di dalam negeri. Bagi Australia, yang juga memiliki pengalaman dalam pengembangan energi terbarukan, kunjungan semacam ini bisa menjadi bahan perbandingan. Apakah kunjungan lapangan seperti ini lebih efektif membangun kepercayaan dibanding pernyataan resmi di ruang konferensi?
Selain Shuaibah, Bowen juga mengunjungi Jeddah Bersejarah, yang disebut sebagai salah satu destinasi budaya dan pariwisata terkemuka Kerajaan. Ini menarik karena kunjungan seorang menteri iklim dan energi mencakup pula dimensi budaya dan pariwisata. Jeddah Bersejarah menjadi wajah lain Arab Saudi yang diperkenalkan kepada tamu internasional. Dalam konteks hubungan bilateral, sentuhan budaya sering menjadi pelengkap yang memperkuat pesan kerja sama. Bukankah citra sebuah negara di mata mitranya juga dibentuk oleh pengalaman di luar meja perundingan?
Kunjungan ke King Abdullah University of Science and Technology (KAUST) menambah dimensi lain. Di sana, Menteri Bowen mendapat penjelasan mengenai lingkungan riset dan program akademik universitas di bidang sains, teknik, dan bioteknologi. KAUST dikenal sebagai salah satu pusat riset di Kerajaan, dan bidang-bidang yang disebut SPA berada di jantung inovasi teknologi, termasuk yang relevan dengan energi dan lingkungan. Kehadiran seorang menteri iklim di kampus riset memberi sinyal bahwa dimensi ilmu pengetahuan dan teknologi tidak terpisahkan dari agenda iklim. Namun, seberapa cepat hasil riset semacam itu bisa diterjemahkan menjadi kebijakan dan proyek nyata di lapangan?
Jika dilihat dari rangkaian acaranya, kunjungan Bowen mencakup tiga lapis: diplomasi di ruang pertemuan, proyek energi terbarukan di lapangan, dan riset di kampus. Ketiganya berada dalam satu kunjungan yang sama. Ini menunjukkan bahwa hubungan energi dan iklim antara kedua negara tidak berdiri di satu titik saja. Ada pembicaraan kebijakan, ada proyek infrastruktur, dan ada kapasitas ilmu pengetahuan. Pertanyaannya, apakah pola kunjungan seperti ini akan berlanjut menjadi kerja sama yang lebih terlembaga, atau hanya menjadi rangkaian pertemuan sesaat menjelang COP31?
Yang jelas, SPA menyebut pertemuan itu membahas peluang kerja sama aksi iklim dan upaya bersama terkait COP31. Fokusnya adalah memajukan tujuan dan prinsip konvensi serta Perjanjian Paris. Kedua menteri menginginkan hasil yang inklusif, seimbang, dan praktis. Dalam bahasa diplomasi iklim, tiga kata itu biasanya menjadi kompromi antara ambisi dan realitas. Inklusif berarti semua pihak merasa terwakili. Seimbang berarti tidak ada satu kelompok yang mendominasi. Praktis berarti kesepakatan harus bisa dijalankan. Mampukah COP31 di Türkiye pada November nanti memenuhi ketiganya sekaligus?
Bagi Arab Saudi, pertemuan ini juga menjadi kesempatan memaparkan apa yang sudah dilakukan di dalam negeri. Penyebaran energi terbarukan, pengelolaan emisi, pengurangan dan penghilangan emisi, Saudi Green Initiative, serta Ekonomi Karbon Sirkular disebut sebagai bagian dari upaya tersebut. Daftar ini menunjukkan bahwa pendekatan Kerajaan tidak bertumpu pada satu instrumen tunggal. Ada sisi teknologi, ada sisi program nasional, dan ada sisi kerja sama regional. Bukankah keberagaman pendekatan justru menjadi keharusan bagi negara dengan struktur ekonomi seperti Arab Saudi?
Dari sisi Australia, kehadiran Menteri Bowen di Jeddah menunjukkan keseriusan untuk berdialog dengan salah satu aktor energi utama dunia. Australia memiliki portofolio perubahan iklim dan energi dalam satu kementerian, sama seperti Arab Saudi yang menggabungkan energi dengan perindustrian dan sumber daya mineral. Struktur kementerian semacam ini mencerminkan bahwa isu energi dan iklim kini sulit dipisahkan. Pertanyaannya, apakah penggabungan portofolio di kedua negara akan mempermudah lahirnya kesepahaman, atau justru menambah kompleksitas karena banyak kepentingan yang harus diseimbangkan?
Pertemuan di Jeddah ini berlangsung pada 28 September 2026, menjelang COP31 yang dijadwalkan pada November tahun ini di Türkiye. Waktu pertemuan yang relatif dekat dengan konferensi menunjukkan bahwa pembicaraan ini menjadi bagian dari persiapan menuju forum global tersebut. Bagi kedua negara, menyamakan posisi sebelum konferensi bisa menjadi langkah penting. Namun, apakah pertemuan bilateral seperti ini cukup untuk mengubah arah perundingan multilateral yang melibatkan banyak negara dengan kepentingan berbeda?
SPA tidak menyebutkan apakah pertemuan itu menghasilkan kesepakatan atau dokumen tertentu. Tidak ada informasi mengenai nilai kerja sama, target angka, atau jadwal tindak lanjut. Yang dilaporkan adalah pembahasan peluang kerja sama, peninjauan inisiatif Arab Saudi, dan rangkaian kunjungan Menteri Bowen ke Shuaibah, Jeddah Bersejarah, serta KAUST. Dengan kata lain, yang tersedia adalah gambaran umum mengenai isi pembicaraan dan agenda kunjungan, bukan hasil yang terukur.
Ketiadaan rincian itu sendiri meninggalkan sejumlah pertanyaan. Apakah pembahasan mengenai COP31 akan berlanjut dalam pertemuan lanjutan? Apakah kunjungan ke Shuaibah dan KAUST akan ditindaklanjuti dengan kerja sama riset atau proyek bersama? Apakah kedua negara akan menyelaraskan posisi dalam perundingan iklim mendatang? SPA tidak memberikan jawaban atas hal-hal tersebut. Yang bisa dipastikan dari laporan resmi itu adalah pertemuan telah berlangsung di Jeddah, topiknya mencakup COP31 dan upaya iklim, serta Menteri Bowen mengunjungi tiga lokasi selama berada di Arab Saudi.
Apa isi utama pertemuan Menteri Energi Saudi dengan Menteri Perubahan Iklim Australia? Keduanya membahas peluang kerja sama aksi iklim dan upaya bersama terkait COP31 yang dijadwalkan di Türkiye pada November tahun ini. Diskusi berfokus pada upaya memajukan tujuan dan prinsip Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim serta Perjanjian Paris. Kedua pihak menginginkan hasil yang inklusif, seimbang, dan praktis dengan mempertimbangkan kondisi nasional masing-masing negara anggota, seperti dilaporkan SPA pada 28 September 2026.
Inisiatif Arab Saudi apa saja yang ditinjau dalam pertemuan itu? Kedua sisi meninjau penyebaran energi terbarukan, pengelolaan emisi, pengurangan dan penghilangan emisi, Saudi Green Initiative, serta penerapan pendekatan Ekonomi Karbon Sirkular beserta teknologinya. Turut dibahas pula program dan inisiatif nasional serta regional lainnya. Daftar ini menunjukkan pendekatan Arab Saudi tidak bertumpu pada satu instrumen, melainkan menggabungkan teknologi, program nasional, dan kerja sama regional dalam menangani dampak perubahan iklim.
Lokasi apa saja yang dikunjungi Menteri Bowen selama di Arab Saudi? Menteri Bowen meninjau Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya Shuaibah, salah satu proyek terbesar di bawah Program Energi Terbarukan Nasional Arab Saudi. Ia juga mengunjungi Jeddah Bersejarah, salah satu destinasi budaya dan pariwisata terkemuka Kerajaan. Selain itu, ia mengunjungi King Abdullah University of Science and Technology (KAUST) dan mendapat penjelasan mengenai lingkungan riset serta program akademik universitas di bidang sains, teknik, dan bioteknologi.
Apa kaitan pertemuan ini dengan COP31? Pertemuan di Jeddah membahas upaya bersama terkait Konferensi Para Pihak ke-31 Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim yang dijadwalkan di Türkiye pada November tahun ini. Diskusi menyoroti upaya memajukan tujuan dan prinsip konvensi serta Perjanjian Paris. Pertemuan berlangsung pada 28 September 2026, relatif dekat dengan jadwal konferensi, sehingga menjadi bagian dari persiapan menuju forum global tersebut menurut laporan SPA.
Apakah pertemuan itu menghasilkan kesepakatan tertentu? SPA tidak menyebutkan adanya kesepakatan atau dokumen tertentu yang dihasilkan dari pertemuan tersebut. Tidak ada informasi mengenai nilai kerja sama, target angka, maupun jadwal tindak lanjut. Yang dilaporkan adalah pembahasan peluang kerja sama, peninjauan inisiatif Arab Saudi, dan rangkaian kunjungan Menteri Bowen ke Shuaibah, Jeddah Bersejarah, serta KAUST. Dengan demikian, rincian hasil terukur belum tersedia dalam laporan resmi tersebut.
Siapa saja pejabat yang terlibat dalam pertemuan di Jeddah? Pertemuan di Jeddah melibatkan Menteri Energi sekaligus Menteri Perindustrian dan Sumber Daya Mineral Pangeran Abdulaziz bin Salman bin Abdulaziz dari Arab Saudi. Dari pihak Australia hadir Menteri Perubahan Iklim dan Energi Chris Bowen. Keduanya membahas peluang kerja sama aksi iklim dan upaya bersama menjelang COP31. SPA melaporkan pertemuan itu berlangsung pada 28 September 2026 di Jeddah tanpa menyebut pejabat lain yang turut hadir.





