Wednesday, October 14, 2026
Berita KSA

Universitas King Khalid peringkat 50 dunia dalam THE 2025

Universitas King Khalid peringkat 50 dunia dalam THE 2025

King Khalid University (KKU) menempati peringkat pertama nasional, kedua di dunia Arab, dan ke-50 secara global dalam pemeringkatan Times Higher Education (THE) 2025 untuk universitas terbaik dunia berdasarkan internasionalisasi. Hasil itu diumumkan dengan lokasi Abha sebagai basis universitas, dan menjadi angka paling tajam dalam materi yang dirilis kantor berita Saudi SPA pada 22 Maret 2025.

Seperti dilaporkan kantor berita Saudi SPA, capaian ini menempatkan KKU di posisi puncak daftar nasional, di bawah hanya satu institusi lain di kawasan Arab, dan di urutan ke-50 dari daftar global THE untuk kategori universitas paling internasional. Pemeringkatan itu sendiri menjadi rujukan yang mengukur seberapa jauh sebuah kampus terhubung dengan dunia luar, bukan sekadar seberapa besar kampus itu atau berapa lama usianya.

Wakil presiden KKU bidang studi pascasarjana dan riset ilmiah Dr. Hamed bin Majdou Al-Qarni menegaskan bahwa pencapaian tersebut memperkuat posisi universitas di kalangan akademik, meningkatkan kemampuannya menarik talenta terbaik di antara mahasiswa dan dosen, mendorong kolaborasi riset dan inovasi internasional, serta berkontribusi pada kualitas pendidikan tinggi dan riset ilmiah secara keseluruhan. Ia mencatat bahwa capaian itu mencerminkan komitmen universitas pada keunggulan akademik dan kehadiran globalnya yang tumbuh, sejalan dengan Saudi Vision 2030 yang berupaya menempatkan universitas-universitas Saudi di antara institusi akademik terkemuka dunia.

Pernyataan itu bukan sekadar seremonial. Ketika sebuah universitas menyebut dirinya sebagai bagian dari proyek Vision 2030, ada konsekuensi yang harus dijawab: apakah kehadiran global benar-benar terasa di ruang kelas, laboratorium, dan publikasi ilmiah, atau hanya berhenti di papan peringkat? Pertanyaan semacam itu wajar diajukan pembaca yang mengikuti bagaimana perguruan tinggi Saudi mengubah diri dalam beberapa tahun terakhir.

Pengawas umum unit pemeringkatan internasional KKU Dr. Mohammed bin Saeed Al-Qahtani menjelaskan bahwa pemeringkatan ini didasarkan pada empat kriteria dengan bobot sama besar, masing-masing 25 persen: rasio dosen internasional, jumlah mahasiswa internasional, kolaborasi riset internasional, dan reputasi akademik global. Ia menuturkan bahwa KKU, sebagai salah satu penggerak strategis kemajuan Wilayah Aseer dan sejalan dengan strategi Vision 2030 universitas, memprioritaskan kehadiran globalnya dalam pemeringkatan internasional. Ia menegaskan bahwa pencapaian itu mencerminkan praktik unggul universitas di bidang pendidikan, riset, pelayanan masyarakat, dan tata kelola institusi.

Empat kriteria itu penting untuk dibedah satu per satu, karena masing-masing menuntut kerja yang berbeda. Rasio dosen internasional berbicara tentang siapa yang berdiri di depan kelas dan membimbing riset. Jumlah mahasiswa internasional berbicara tentang siapa yang duduk di kursi kuliah dan membawa perspektif dari luar. Kolaborasi riset internasional berbicara tentang siapa yang menulis bersama siapa, di jurnal apa, dan dengan dana dari mana. Reputasi akademik global berbicara tentang bagaimana komunitas ilmiah di luar sana menilai kampus ini ketika ditanya. Keempatnya diberi bobot yang sama, sehingga tidak ada satu aspek yang bisa menutupi kelemahan aspek lain.

Apakah bobot yang setara itu adil bagi universitas di kawasan yang baru membangun jaringan internasionalnya? Pertanyaan itu masuk akal, karena rasio dosen dan mahasiswa internasional bisa bergerak lebih cepat lewat rekrutmen, sementara reputasi akademik biasanya bergerak lambat dan menuntut konsistensi bertahun-tahun. KKU berada di posisi ke-50 global, artinya keempat komponen itu dianggap cukup seimbang oleh pemeringkat.

Dari sisi nasional, peringkat pertama di Arab Saudi memberi KKU posisi yang jelas di antara universitas-universitas besar kerajaan. Dari sisi regional, peringkat kedua di dunia Arab menunjukkan bahwa hanya satu kampus lain di kawasan yang dinilai lebih internasional dalam kerangka kriteria THE. Dari sisi global, posisi ke-50 menempatkan KKU di antara 50 universitas paling internasional di dunia menurut pemeringkatan tersebut.

Bagaimana sebuah universitas di Abha bisa bersaing dalam ukuran internasionalisasi? Jawabannya sebagian ada pada strategi yang disebut Al-Qahtani: KKU memprioritaskan kehadiran globalnya dalam pemeringkatan internasional, dan menjadikan hal itu bagian dari strategi Vision 2030 universitas. Ini berarti internasionalisasi bukan proyek sampingan, melainkan agenda yang diurus secara kelembagaan, lengkap dengan unit khusus yang mengawasi pemeringkatan internasional.

Keberadaan unit pemeringkatan internasional itu sendiri menarik dicermati. Sebuah universitas yang serius mengejar posisi global biasanya membentuk tim yang memantau metodologi, mengumpulkan data, dan memastikan tidak ada komponen yang terlewat. KKU memiliki unit tersebut, dan pengawas umumnya menjelaskan rincian metodologi secara terbuka: empat kriteria, masing-masing 25 persen. Transparansi semacam ini membantu publik memahami bahwa peringkat bukan hasil undian, melainkan konsekuensi dari data yang dilaporkan.

Al-Qarni menyebut empat dampak yang diharapkan dari capaian ini. Pertama, memperkuat posisi universitas di kalangan akademik. Kedua, meningkatkan kemampuan menarik talenta terbaik di antara mahasiswa dan dosen. Ketiga, mendorong kolaborasi riset dan inovasi internasional. Keempat, berkontribusi pada kualitas pendidikan tinggi dan riset ilmiah secara keseluruhan. Keempatnya saling terkait: menarik talenta memperkuat riset, riset memperkuat reputasi, reputasi menarik talenta berikutnya.

Apakah daya tarik talenta benar-benar meningkat setelah sebuah peringkat naik? Dalam praktiknya, peringkat sering menjadi sinyal awal bagi calon mahasiswa dan dosen yang mempertimbangkan tempat berkarya. Mereka membaca daftar, membandingkan, lalu menelusuri lebih dalam. Bagi universitas, berada di daftar yang diakui secara global memberi pintu masuk percakapan yang lebih mudah dengan kandidat dari luar negeri.

Kolaborasi riset internasional, komponen ketiga dalam metodologi THE, punya efek berantai yang serupa. Ketika peneliti dari berbagai negara menulis bersama, hasilnya tidak hanya berupa publikasi, tetapi juga jaringan, pertukaran metode, dan akses ke fasilitas atau data yang tidak dimiliki satu institusi sendirian. KKU menyebut kolaborasi ini sebagai salah satu hal yang didorong oleh capaian peringkatnya.

Reputasi akademik global, komponen keempat, adalah yang paling sulit dibangun dan paling mudah goyah. Ia terbentuk dari penilaian komunitas ilmiah, yang biasanya berbasis pengalaman langsung: siapa yang pernah bekerja dengan kampus ini, siapa yang membaca publikasinya, siapa yang mengundangnya dalam konferensi. Peringkat ke-50 global memberi bukti bahwa penilaian itu sudah terbentuk pada tingkat tertentu.

Dalam konteks Wilayah Aseer, KKU disebut sebagai salah satu penggerak strategis kemajuan daerah. Ini menempatkan universitas bukan hanya sebagai institusi pendidikan, tetapi juga sebagai aktor pembangunan wilayah. Apakah sebuah kampus bisa mengangkat daerahnya lewat internasionalisasi? Al-Qahtani menyatakan bahwa KKU, sejalan dengan strategi Vision 2030 universitas, memprioritaskan kehadiran globalnya, dan bahwa pencapaian itu mencerminkan praktik unggul di bidang pendidikan, riset, pelayanan masyarakat, dan tata kelola institusi. Empat bidang itu menyentuh langsung kehidupan daerah.

Pendidikan menyiapkan tenaga kerja. Riset menghasilkan pengetahuan yang bisa dipakai. Pelayanan masyarakat menghubungkan kampus dengan kebutuhan sekitar. Tata kelola institusi menentukan apakah ketiganya berjalan konsisten. Ketika universitas menyebut keempatnya dalam satu tarikan napas dengan capaian pemeringkatan, pesannya adalah bahwa internasionalisasi tidak dilepaskan dari peran lokal.

Visi 2030 yang disebut Al-Qarni menargetkan universitas-universitas Saudi masuk jajaran institusi akademik terkemuka dunia. KKU menyatakan capaiannya sejalan dengan visi tersebut. Dalam kerangka itu, peringkat bukan tujuan akhir, melainkan penanda arah. Pertanyaannya, apakah penanda arah cukup untuk mengubah kualitas pengalaman belajar sehari-hari mahasiswa? Jawabannya bergantung pada bagaimana universitas menerjemahkan pengakuan eksternal menjadi perbaikan internal.

Perlu dicatat bahwa materi SPA tidak memuat rincian jumlah dosen internasional, jumlah mahasiswa internasional, jumlah publikasi kolaboratif, atau skor tiap komponen. Materi juga tidak menyebutkan posisi universitas lain dalam daftar nasional maupun Arab, nama institusi yang berada di atas KKU, atau jumlah total universitas yang dinilai. Tidak ada pula keterangan tentang perubahan peringkat dibanding tahun sebelumnya, target peringkat berikutnya, atau anggaran yang dialokasikan untuk internasionalisasi.

Yang tersedia adalah tiga angka pokok: pertama nasional, kedua Arab, ke-50 global, plus metodologi empat kriteria berbobot sama dan pernyataan dua pejabat KKU. Dari situ, gambaran yang bisa dibaca publik adalah sebuah universitas di Abha yang memilih internasionalisasi sebagai jalur utama, mengelolanya secara terstruktur, dan mengaitkannya dengan agenda nasional yang lebih luas.

Apakah capaian ini akan bertahan? Pemeringkatan diperbarui setiap tahun, dan posisi bisa naik atau turun tergantung data yang dilaporkan serta penilaian komunitas. KKU menyatakan komitmennya pada keunggulan akademik dan kehadiran global yang tumbuh. Bagi pembaca, yang bisa dipegang dari rilis ini adalah angka dan metodologinya, bukan proyeksi. SPA tidak menyebutkan apa pun tentang peringkat edisi berikutnya.

Yang jelas, dalam THE 2025 untuk universitas paling internasional, KKU berada di peringkat pertama Arab Saudi, kedua dunia Arab, dan ke-50 global. Empat kriteria dengan bobot 25 persen masing-masing menjadi dasar penilaian. Dua pejabat universitas menafsirkan hasil itu sebagai penguatan posisi akademik, daya tarik talenta, kolaborasi riset internasional, dan kualitas pendidikan serta riset, sekaligus sebagai bagian dari arah Vision 2030. Selebihnya, rilis itu berhenti di situ.

Apa capaian King Khalid University dalam pemeringkatan Times Higher Education 2025? King Khalid University menempati peringkat pertama nasional, kedua di dunia Arab, dan ke-50 secara global dalam pemeringkatan Times Higher Education 2025 untuk universitas terbaik dunia berdasarkan internasionalisasi. Hasil itu dirilis dengan lokasi Abha sebagai basis universitas. SPA melaporkan capaian ini pada 22 Maret 2025. Materi sumber tidak menyebutkan posisi universitas lain dalam daftar nasional maupun Arab, dan tidak menyebutkan jumlah total universitas yang dinilai dalam pemeringkatan tersebut.

Kriteria apa yang dipakai dalam pemeringkatan ini? Pengawas umum unit pemeringkatan internasional KKU Dr. Mohammed bin Saeed Al-Qahtani menjelaskan bahwa pemeringkatan didasarkan pada empat kriteria dengan bobot sama besar, masing-masing 25 persen: rasio dosen internasional, jumlah mahasiswa internasional, kolaborasi riset internasional, dan reputasi akademik global. Karena bobotnya setara, tidak ada satu komponen yang bisa menutupi kelemahan komponen lain. SPA tidak merinci skor tiap komponen, jumlah dosen atau mahasiswa internasional, maupun jumlah publikasi kolaboratif KKU.

Bagaimana KKU menafsirkan capaian peringkat ini? Wakil presiden KKU bidang studi pascasarjana dan riset ilmiah Dr. Hamed bin Majdou Al-Qarni menegaskan bahwa capaian itu memperkuat posisi universitas di kalangan akademik, meningkatkan kemampuan menarik talenta terbaik di antara mahasiswa dan dosen, mendorong kolaborasi riset dan inovasi internasional, serta berkontribusi pada kualitas pendidikan tinggi dan riset ilmiah. Ia menyebutnya sejalan dengan Saudi Vision 2030 yang berupaya menempatkan universitas Saudi di antara institusi akademik terkemuka dunia. SPA tidak menyebut target peringkat berikutnya.

Apa kaitan capaian ini dengan Wilayah Aseer dan Vision 2030? Al-Qahtani menuturkan bahwa KKU merupakan salah satu penggerak strategis kemajuan Wilayah Aseer dan, sejalan dengan strategi Vision 2030 universitas, memprioritaskan kehadiran globalnya dalam pemeringkatan internasional. Ia menegaskan pencapaian itu mencerminkan praktik unggul universitas di bidang pendidikan, riset, pelayanan masyarakat, dan tata kelola institusi. Al-Qarni menambahkan capaian itu sejalan dengan Saudi Vision 2030. SPA tidak menyebut anggaran khusus untuk internasionalisasi maupun program daerah yang terkait langsung.

Apakah sumber menyebutkan perubahan peringkat dibanding tahun sebelumnya? Tidak. Materi SPA tidak memuat keterangan tentang peringkat KKU pada edisi sebelumnya, besarnya kenaikan atau penurunan, maupun target peringkat pada edisi berikutnya. Yang tersedia hanya tiga angka pokok, yaitu pertama nasional, kedua dunia Arab, dan ke-50 global, plus penjelasan metodologi empat kriteria berbobot 25 persen masing-masing. SPA juga tidak menyebutkan nama institusi yang berada di atas KKU di tingkat Arab maupun global.