Riyadh — Sekretaris Jenderal Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) Jasem Mohamed Albudaiwi mengecam dengan istilah paling keras penyerbuan halaman Masjid Al-Aqsa oleh kelompok ekstremis di dalam pemerintahan pendudukan Israel, disertai intrusi berulang pemukim dan ritual provokatif yang dilakukan di bawah perlindungan pasukan pendudukan Israel.
Seperti dilaporkan kantor berita Saudi SPA pada 28 September 2026, Albudaiwi menyampaikan pernyataan itu dari Riyadh dan menegaskan bahwa pelanggaran tersebut merupakan serangan terang-terangan terhadap kesucian Masjid Al-Aqsa sekaligus eskalasi yang tidak dapat diterima karena memanaskan ketegangan dan membahayakan keamanan serta stabilitas kawasan.
Pernyataan Sekjen GCC ini muncul di tengah rangkaian insiden yang menurutnya terus berulang. Bagaimana sebuah tempat ibadah bisa berulang kali menjadi lokasi benturan antara pemukim, pasukan pendudukan, dan jamaah? Pertanyaan itu menjadi inti kecaman yang disampaikan Albudaiwi, yang menyoroti bahwa intrusi pemukim bukan lagi peristiwa tunggal, melainkan pola yang berlangsung terus-menerus.
Albudaiwi menekankan bahwa pelanggaran-pelanggaran tersebut tidak hanya berdampak pada status kesucian masjid, tetapi juga memperparah ketegangan yang lebih luas di kawasan. Menurutnya, eskalasi semacam ini mengancam keamanan dan stabilitas regional, dan karena itu tidak bisa dibiarkan berlanjut tanpa respons internasional.
Dalam pernyataannya, Sekjen GCC menyerukan kepada komunitas internasional untuk mengambil tanggung jawabnya dan bertindak cepat serta tegas guna menghentikan pelanggaran yang terus berlangsung. Ia juga menekankan pentingnya menjaga status quo historis dan hukum Masjid Al-Aqsa. Mengapa status quo historis dan hukum masjid itu begitu penting untuk dipertahankan? Bagi Albudaiwi, status quo tersebut adalah fondasi yang menopang kestabilan, dan setiap pelanggaran terhadapnya berpotensi membuka jalan bagi ketegangan yang lebih besar.
Seruan itu ditujukan agar komunitas internasional tidak hanya menyampaikan keprihatinan, tetapi juga mengambil langkah nyata. Albudaiwi menyebut perlunya tindakan cepat dan menentukan untuk menghentikan pelanggaran yang sedang berlangsung dan melindungi status historis serta hukum Masjid Al-Aqsa.
Lebih lanjut, Albudaiwi menegaskan kembali sikap teguh negara-negara anggota GCC dalam mendukung perjuangan Palestina dan hak-hak sah rakyat Palestina. Di antara hak-hak tersebut, yang paling utama menurutnya adalah pendirian negara merdeka di sepanjang perbatasan 4 Juni 1967 dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya.
Pernyataan dukungan terhadap perjuangan Palestina dan hak-hak rakyat Palestina ini bukan hal baru bagi GCC, namun disampaikan kembali di tengah situasi yang oleh Sekjen GCC digambarkan semakin memanas. Apakah dukungan politik semacam ini cukup untuk mengubah keadaan di lapangan? Pertanyaan itu menggantung, karena pernyataan Albudaiwi tidak memerinci langkah konkret apa pun yang akan diambil negara-negara GCC menyusul kecaman tersebut.
Dalam pernyataannya, Albudaiwi menggunakan frasa “dengan istilah paling keras dan paling keras” untuk menggambarkan kecaman GCC terhadap penyerbuan halaman Masjid Al-Aqsa. Ia menyebut pelaku sebagai ekstremis di dalam pemerintahan pendudukan Israel, dan menyoroti bahwa aksi mereka berlangsung bersamaan dengan intrusi pemukim yang berulang serta ritual provokatif di bawah perlindungan pasukan pendudukan Israel.
Rangkaian unsur itu — ekstremis di dalam pemerintahan, pemukim, ritual provokatif, dan perlindungan pasukan pendudukan — menjadi dasar kecaman GCC. Bagaimana perlindungan pasukan pendudukan terhadap aksi-aksi tersebut bisa dibiarkan terjadi? Pertanyaan ini menjadi bagian dari kritik yang disampaikan Albudaiwi, yang menilai situasi itu sebagai eskalasi yang tidak dapat diterima.
Albudaiwi juga menegaskan bahwa pelanggaran terhadap kesucian Masjid Al-Aqsa merupakan serangan terang-terangan. Menurutnya, tindakan semacam itu memanaskan ketegangan dan membahayakan keamanan serta stabilitas kawasan, sehingga memerlukan perhatian serius dari komunitas internasional.
Seruan kepada komunitas internasional menjadi salah satu poin utama pernyataan Sekjen GCC. Ia meminta agar tanggung jawab diambil dan tindakan cepat serta tegas dilakukan untuk menghentikan pelanggaran yang terus berlangsung. Ia juga menekankan perlunya menjaga status quo historis dan hukum Masjid Al-Aqsa.
Apakah komunitas internasional akan merespons seruan itu dengan tindakan nyata? Hingga pernyataan itu dikeluarkan, belum ada indikasi langkah lanjutan yang disebutkan dalam materi SPA. Yang jelas, Albudaiwi menempatkan pelestarian status quo masjid sebagai bagian tak terpisahkan dari upaya menjaga stabilitas kawasan.
Dalam konteks dukungan terhadap Palestina, Albudaiwi mengulangi posisi GCC bahwa negara-negara anggotanya berdiri teguh di belakang perjuangan Palestina dan hak-hak sah rakyat Palestina. Hak yang paling utama, menurutnya, adalah pendirian negara merdeka di sepanjang perbatasan 4 Juni 1967 dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya.
Pernyataan itu menegaskan kembali garis kebijakan GCC yang telah lama disampaikan dalam berbagai forum. Namun, dalam pernyataan kali ini, penekanannya ditempatkan pada kaitan antara pelanggaran di Al-Aqsa dan upaya yang oleh Albudaiwi disebut sebagai langkah terhitung untuk mengganggu keamanan regional.
Bagaimana pelanggaran di satu lokasi ibadah bisa dikaitkan dengan upaya mengganggu keamanan seluruh kawasan? Albudaiwi tampaknya memandang keduanya saling terkait: eskalasi di Al-Aqsa tidak berdiri sendiri, melainkan bagian dari dinamika yang lebih luas yang memengaruhi stabilitas regional.
Kecaman Sekjen GCC ini disampaikan pada 28 September 2026 dari Riyadh. Waktu penyampaiannya tercatat pukul 22.00 waktu setempat atau 19.00 GMT. Pernyataan itu dirilis melalui kantor berita Saudi SPA.
Dalam materi yang dirilis SPA, tidak disebutkan lokasi spesifik insiden yang memicu kecaman, jumlah pemukim yang terlibat, atau kronologi kejadian. Tidak ada pula rincian mengenai langkah diplomatik lanjutan yang akan diambil GCC, maupun respons dari pihak lain terhadap pernyataan tersebut.
Yang disampaikan Albudaiwi adalah kecaman, penegasan bahwa pelanggaran itu merupakan serangan terhadap kesucian masjid dan eskalasi yang membahayakan stabilitas, seruan kepada komunitas internasional untuk bertindak cepat dan tegas, serta penegasan kembali sikap GCC mendukung perjuangan Palestina dan hak-hak rakyat Palestina, termasuk pendirian negara merdeka di sepanjang perbatasan 4 Juni 1967 dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya.
Pernyataan itu juga menekankan pentingnya menjaga status quo historis dan hukum Masjid Al-Aqsa. Menurut Albudaiwi, pelanggaran yang terus berlangsung harus dihentikan, dan komunitas internasional memiliki tanggung jawab untuk mengambil tindakan.
Apakah seruan semacam ini akan diikuti dengan langkah konkret, atau tetap menjadi pernyataan politik belaka? Pertanyaan itu belum terjawab dalam materi SPA. Yang tercatat adalah posisi tegas Sekjen GCC, kecaman terhadap penyerbuan dan intrusi pemukim, serta seruan agar status quo Masjid Al-Aqsa dipertahankan.
Dalam pernyataannya, Albudaiwi tidak menyebut nama pihak tertentu di luar pemerintahan pendudukan Israel dan pemukim. Ia juga tidak merinci bentuk tindakan yang diharapkan dari komunitas internasional. Materi SPA hanya memuat kecaman, seruan, dan penegasan sikap GCC terhadap perjuangan Palestina.
Dengan demikian, pernyataan Sekjen GCC ini menempatkan pelanggaran di Masjid Al-Aqsa sebagai persoalan yang tidak hanya menyangkut tempat ibadah, tetapi juga keamanan dan stabilitas kawasan. Albudaiwi menilai pelanggaran itu sebagai eskalasi yang tidak dapat diterima dan menyerukan tindakan cepat serta tegas dari komunitas internasional untuk menghentikannya dan menjaga status quo historis serta hukum masjid.
Materi SPA tidak menyebutkan apakah ada pertemuan darurat, resolusi, atau langkah diplomatik lain yang akan diambil GCC menyusul pernyataan tersebut. Tidak ada pula informasi mengenai respons Israel atau pihak lain terhadap kecaman itu. Yang tersedia adalah pernyataan Albudaiwi sebagaimana dirilis SPA pada 28 September 2026.
Apa yang dikecam Sekjen GCC? Sekretaris Jenderal GCC Jasem Mohamed Albudaiwi mengecam penyerbuan halaman Masjid Al-Aqsa oleh ekstremis di dalam pemerintahan pendudukan Israel, disertai intrusi berulang pemukim dan ritual provokatif di bawah perlindungan pasukan pendudukan Israel. Ia menyebut pelanggaran itu sebagai serangan terang-terangan terhadap kesucian masjid dan eskalasi yang tidak dapat diterima karena memanaskan ketegangan serta membahayakan keamanan dan stabilitas kawasan.
Apa yang diminta Albudaiwi dari komunitas internasional? Albudaiwi menyerukan komunitas internasional untuk mengambil tanggung jawabnya dan bertindak cepat serta tegas guna menghentikan pelanggaran yang terus berlangsung. Ia juga menekankan pentingnya menjaga status quo historis dan hukum Masjid Al-Aqsa. Seruan itu disampaikan dalam pernyataan yang dirilis kantor berita Saudi SPA pada 28 September 2026 dari Riyadh, tanpa merinci bentuk tindakan konkret yang diharapkan.
Bagaimana sikap GCC terhadap perjuangan Palestina? Albudaiwi menegaskan kembali sikap teguh negara-negara anggota GCC dalam mendukung perjuangan Palestina dan hak-hak sah rakyat Palestina. Hak yang paling utama, menurutnya, adalah pendirian negara merdeka di sepanjang perbatasan 4 Juni 1967 dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya. Penegasan itu menjadi bagian dari pernyataan kecaman yang dirilis SPA pada 28 September 2026.
Kapan dan di mana pernyataan itu disampaikan? Pernyataan Sekjen GCC disampaikan pada 28 September 2026 dari Riyadh, dengan waktu pencatatan pukul 22.00 waktu setempat atau 19.00 GMT. Materi itu dirilis melalui kantor berita Saudi SPA. Dalam rilis tersebut tidak disebutkan lokasi spesifik insiden yang memicu kecaman, jumlah pemukim yang terlibat, maupun kronologi kejadian secara rinci.
Apa yang tidak disebutkan dalam rilis SPA? Rilis SPA tidak memuat rincian lokasi spesifik insiden, jumlah pemukim yang terlibat, atau kronologi kejadian. Tidak ada pula informasi mengenai langkah diplomatik lanjutan yang akan diambil GCC, bentuk tindakan konkret yang diharapkan dari komunitas internasional, maupun respons pihak lain terhadap pernyataan Albudaiwi. Yang tersedia adalah kecaman, seruan, dan penegasan sikap GCC terhadap perjuangan Palestina.





