Perpustakaan Masjid Nabawi di Madinah menyimpan 182.000 buku dari berbagai bidang dan menyediakan penelitian digital melalui 70 komputer, dengan layanan dalam 23 bahasa bagi audiens multikultural.
Seperti dilaporkan kantor berita Saudi SPA pada 28 Maret 2025, perpustakaan itu memadukan tradisi dan inovasi, menawarkan akses ke manuskrip langka sekaligus memanfaatkan teknologi digital canggih.
Perpustakaan tersebut berada di sisi barat Masjid Nabawi, dekat Gate 10, dan buka 24 jam. Lokasinya menjadikannya destinasi global bagi jamaah dan pengunjung, memadukan makna spiritual situs dengan sumber daya akademiknya yang kaya.
Angka 182.000 buku itu bukan sekadar koleksi. Ia menunjukkan skala lembaga yang melayani jamaah dari berbagai negara, yang datang tidak hanya untuk ibadah tetapi juga untuk membaca, meneliti, dan menelusuri warisan keilmuan Islam. Bagaimana sebuah perpustakaan di dalam kompleks masjid menyeimbangkan kesucian ruang dengan kebutuhan riset modern?
Ketersediaan 70 komputer untuk penelitian digital menandai pergeseran cara akses pengetahuan di lingkungan masjid. Pengunjung tidak lagi hanya bergantung pada katalog fisik atau bantuan pustakawan, tetapi dapat menelusuri bahan secara mandiri melalui perangkat yang disediakan. Apakah digitalisasi seperti ini memperluas jangkauan ilmu atau justru mengubah pengalaman membaca yang selama ini bersifat personal?
Layanan dalam 23 bahasa menjadi penanda lain. Masjid Nabawi menerima jamaah dari hampir seluruh penjuru dunia, dan perpustakaan menyesuaikan diri dengan kenyataan itu. Bahasa bukan lagi penghalang utama untuk mengakses koleksi atau meminta bantuan. Pertanyaannya, sejauh mana layanan multibahasa ini menjangkau mereka yang datang dengan waktu terbatas selama kunjungan?
Manuskrip langka yang disebut SPA menjadi bagian dari daya tarik perpustakaan. Koleksi semacam itu biasanya menarik peneliti, akademisi, dan mereka yang menekuni sejarah Islam. Namun akses ke manuskrip umumnya memerlukan prosedur tertentu, dan SPA tidak merinci bagaimana pengunjung dapat melihat atau meneliti bahan tersebut. Bukankah kejelasan akses justru menentukan nilai sebuah koleksi langka bagi publik luas?
Lokasi dekat Gate 10 di sisi barat masjid memberi perpustakaan posisi yang mudah dijangkau jamaah. Orang yang selesai beribadah dapat langsung menuju perpustakaan tanpa harus keluar dari kawasan masjid. Ini menciptakan alur yang menyatukan ibadah dan pencarian ilmu dalam satu kunjungan. Apakah kedekatan fisik seperti ini cukup untuk mendorong lebih banyak jamaah memanfaatkan perpustakaan?
Buka 24 jam adalah pilihan yang mengikuti ritme Masjid Nabawi, yang tidak pernah benar-benar sepi. Jamaah datang sepanjang malam, terutama pada musim-musim tertentu. Perpustakaan yang tetap terbuka berarti pengetahuan tersedia pada jam-jam ketika banyak institusi lain tutup. Namun, bagaimana layanan dijaga tetap berjalan pada jam-jam sepi tanpa mengurangi kualitas bantuan bagi pengunjung?
SPA menyebut perpustakaan ini sebagai mercusuar pengetahuan. Istilah itu menempatkan perpustakaan bukan sebagai pelengkap, melainkan bagian dari identitas Masjid Nabawi sebagai pusat spiritual dan intelektual. Kombinasi tradisi dan inovasi yang disebut SPA menunjukkan bahwa warisan tidak diperlakukan sebagai benda mati, melainkan dirawat dan dihubungkan dengan teknologi masa kini. Apakah pendekatan ini bisa menjadi rujukan bagi perpustakaan keagamaan lain?
Angka-angka yang dirilis SPA memberi gambaran kuantitatif: 182.000 buku, 70 komputer, 23 bahasa, buka 24 jam, dekat Gate 10. Namun angka tidak menjelaskan pengalaman pengunjung. Bagaimana seseorang menemukan buku yang tepat di antara 182.000 judul? Bagaimana peneliti menelusuri manuskrip langka? Bagaimana pustakawan melayani penutur 23 bahasa dalam satu hari?
Perpustakaan yang berada di dalam kompleks masjid menghadapi tantangan tersendiri. Suasana harus tetap mendukung kekhusyukan ibadah, sementara kegiatan akademik membutuhkan ruang untuk membaca, meneliti, dan berdiskusi. Keseimbangan ini tidak sederhana. Apakah pemisahan ruang, jam layanan, atau prosedur tertentu diterapkan untuk menjaga keduanya?
Digitalisasi juga membuka peluang yang tidak dibatasi ruang fisik. Jika koleksi dapat diakses melalui komputer, sebagian manfaat perpustakaan berpotensi menjangkau mereka yang tidak berada di Madinah. Namun SPA tidak menyebut layanan daring, basis data jarak jauh, atau akses digital dari luar. Apakah digitalisasi di sini masih berpusat pada pengunjung di lokasi?
Manuskrip langka menyimpan nilai sejarah yang tidak tergantikan. Merawatnya memerlukan kondisi penyimpanan, penanganan, dan mungkin digitalisasi untuk mengurangi sentuhan langsung. SPA menyebut keberadaan manuskrip langka tanpa merinci jumlah atau jenisnya. Bukankah rincian semacam itu penting bagi peneliti yang ingin merencanakan kunjungan?
Layanan 23 bahasa mencerminkan komposisi jamaah yang beragam. Bahasa-bahasa ini kemungkinan mencakup bahasa-bahasa utama dunia Islam dan bahasa internasional. Namun SPA tidak menyebut bahasa apa saja yang tersedia atau bagaimana dukungan diberikan, apakah melalui staf, materi tercetak, atau antarmuka digital. Tidakkah transparansi daftar bahasa membantu pengunjung mempersiapkan diri?
Perpustakaan yang buka 24 jam juga menuntut kesiapan operasional. Staf, keamanan, pencahayaan, pendingin ruangan, dan sistem komputer harus berfungsi sepanjang waktu. Ini bukan hal kecil untuk sebuah fasilitas di dalam masjid yang menerima jutaan jamaah. Bagaimana perawatan dan pemeliharaan dijadwalkan tanpa mengganggu layanan?
Bagi jamaah yang datang dari jauh, perpustakaan bisa menjadi tempat beristirahat sambil membaca. Bagi peneliti, ia bisa menjadi tujuan utama. Bagi pengunjung biasa, ia mungkin sekadar tempat singgah. Satu fasilitas melayani beberapa kelompok dengan kebutuhan berbeda. Apakah satu model layanan bisa memuaskan semuanya?
SPA menempatkan perpustakaan sebagai destinasi global. Istilah itu sejalan dengan posisi Masjid Nabawi sebagai tujuan ziarah internasional. Namun destinasi global juga berarti ekspektasi global terhadap aksesibilitas, informasi, dan layanan. Apakah fasilitas ini siap memenuhi ekspektasi tersebut, terutama bagi pengunjung dengan kebutuhan khusus?
Kombinasi tradisi dan inovasi yang disebut SPA menunjukkan bahwa perpustakaan tidak memilih salah satu jalan. Ia mempertahankan manuskrip dan buku cetak sambil menambah komputer dan layanan digital. Pendekatan ganda ini memerlukan investasi dan perencanaan jangka panjang. Apakah model ini berkelanjutan seiring pertumbuhan koleksi dan jumlah pengunjung?
Yang tidak disebut SPA juga penting. Rilis itu tidak merinci jumlah manuskrip langka, judul koleksi, anggaran, jumlah staf, jadwal kegiatan, layanan daring, atau prosedur akses bagi peneliti. Ia juga tidak menyebut apakah ada katalog daring atau program digitalisasi manuskrip. Tanpa rincian itu, gambaran tentang perpustakaan tetap pada tingkat umum.
Meski demikian, fakta yang ada sudah cukup untuk menempatkan Perpustakaan Masjid Nabawi sebagai fasilitas luar biasa. Dengan 182.000 buku, 70 komputer penelitian, layanan 23 bahasa, dan operasi 24 jam di dekat Gate 10, ia menggabungkan skala, aksesibilitas, dan makna spiritual. Bagaimana tidak? Sebuah perpustakaan yang menyatu dengan salah satu masjid paling penting di dunia menawarkan sesuatu yang jarang ditemukan di tempat lain.
Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana publik memanfaatkannya. Jamaah yang datang ke Madinah mungkin belum menyadari keberadaan perpustakaan ini. Informasi tentang lokasi, jam buka, dan layanan dapat membantu lebih banyak orang memanfaatkannya. Apakah sosialisasi menjadi langkah berikutnya setelah pembangunan fasilitas?
Pada akhirnya, Perpustakaan Masjid Nabawi berdiri sebagai penghubung antara masa lalu dan masa kini. Manuskrip langka mewakili warisan, sementara komputer dan layanan multibahasa mewakili perkembangan digital. SPA menyebutnya mercusuar pengetahuan, dan angka-angkanya mendukung gambaran itu. Namun nilai sebenarnya akan terlihat dari seberapa banyak orang yang datang, membaca, meneliti, dan membawa pulang manfaat dari sana.
Apa saja fasilitas utama Perpustakaan Masjid Nabawi? Perpustakaan ini menyimpan 182.000 buku dari berbagai bidang dan menyediakan penelitian digital melalui 70 komputer. Layanan tersedia dalam 23 bahasa untuk audiens multikultural, dan perpustakaan buka 24 jam. Lokasinya berada di sisi barat Masjid Nabawi, dekat Gate 10. SPA menyebut perpustakaan ini memadukan tradisi dan inovasi, dengan akses ke manuskrip langka sekaligus pemanfaatan teknologi digital canggih.
Di mana lokasi perpustakaan dan kapan buka? Perpustakaan berada di sisi barat Masjid Nabawi, dekat Gate 10. Menurut SPA, perpustakaan buka 24 jam. Lokasi di dalam kawasan masjid memudahkan jamaah menuju perpustakaan setelah beribadah. Jam buka yang tidak terputus mengikuti ritme Masjid Nabawi yang menerima jamaah sepanjang waktu. SPA tidak merinci apakah ada pengecualian jam pada hari atau musim tertentu.
Berapa banyak buku dan komputer yang tersedia? SPA melaporkan perpustakaan menyimpan 182.000 buku dari berbagai bidang. Untuk penelitian digital, tersedia 70 komputer. Angka-angka ini menunjukkan skala koleksi sekaligus dukungan teknologi bagi pengunjung. SPA tidak menyebut jumlah manuskrip langka secara terpisah, judul koleksi, atau rincian katalog. Rilis juga tidak menjelaskan apakah komputer terhubung ke basis data tertentu atau hanya menyediakan akses katalog digital.
Bahasa apa saja yang dilayani perpustakaan? SPA menyebut layanan tersedia dalam 23 bahasa bagi audiens multikultural. Rilis tidak merinci bahasa apa saja yang termasuk atau bagaimana dukungan diberikan, apakah melalui staf, materi tercetak, atau antarmuka digital. Jumlah 23 bahasa mencerminkan keragaman jamaah Masjid Nabawi yang datang dari berbagai negara. SPA juga tidak menyebut apakah ada layanan penerjemahan atau pendampingan khusus bagi peneliti berbahasa asing.
Apakah perpustakaan menyediakan manuskrip langka? SPA menyatakan perpustakaan menawarkan akses ke manuskrip langka. Namun rilis tidak menyebut jumlah, jenis, atau kondisi manuskrip tersebut. SPA juga tidak merinci prosedur bagi peneliti yang ingin mengaksesnya, apakah melalui permohonan khusus, ruang baca terpisah, atau salinan digital. Keberadaan manuskrip langka menjadi bagian dari daya tarik akademik perpustakaan, tetapi tanpa rincian akses, publik belum mendapat gambaran lengkap.
Apa yang tidak disebutkan SPA tentang perpustakaan ini? SPA tidak merinci jumlah manuskrip langka, judul koleksi, anggaran, jumlah staf, jadwal kegiatan, layanan daring, atau prosedur akses bagi peneliti. Rilis juga tidak menyebut apakah ada katalog daring atau program digitalisasi manuskrip. Daftar 23 bahasa pun tidak diuraikan. Karena itu, gambaran tentang perpustakaan tetap pada tingkat umum, meski fakta soal 182.000 buku, 70 komputer, dan operasi 24 jam sudah cukup menunjukkan skalanya.