Al-Azhar mengutuk serangan terhadap Bandara Abha dan Bandara King Khalid di Arab Saudi yang mengakibatkan korban jiwa dan luka-luka di kalangan warga sipil.
Seperti dilaporkan kantor berita Saudi SPA dari Kairo pada 8 Oktober 2026, lembaga keagamaan itu menegaskan bahwa menargetkan fasilitas sipil dan meneror orang-orang tak berdosa merupakan tindakan kriminal menurut hukum Islam serta melanggar seluruh norma dan konvensi internasional. Menurut Al-Azhar, tindakan tersebut merupakan pelanggaran yang tidak dapat diterima terhadap keamanan dan kedaulatan Kerajaan.
Dalam pernyataan yang dikeluarkan hari itu, Al-Azhar memperingatkan bahaya eskalasi ini dan potensi dampaknya terhadap stabilitas kawasan. Al-Azhar menyerukan penghentian segera serangan-serangan keji tersebut.
Al-Azhar juga menegaskan perlunya menghormati kedaulatan dan keutuhan wilayah setiap negara untuk menghindari konsekuensi dahsyat dari konflik dan ketegangan. Menurut pernyataan itu, penghormatan semacam itu akan membantu melindungi nyawa orang-orang tak berdosa dan menjaga sumber daya negara-negara.
Al-Azhar memanjatkan doa kepada Allah Yang Maha Kuasa agar melindungi tanah Dua Masjid Suci dari bahaya dan kejahatan, serta terus memberkahi Kerajaan dan rakyatnya dengan keamanan, stabilitas, dan kemakmuran.
Serangan yang dikutuk itu menyasar dua bandara di Arab Saudi, yakni Bandara Abha dan Bandara King Khalid. Menurut pernyataan Al-Azhar, serangan tersebut menimbulkan korban jiwa dan luka-luka di kalangan warga sipil. Bukankah menyasar fasilitas sipil seharusnya menjadi garis merah bagi siapa pun?
Al-Azhar menempatkan serangan itu dalam kerangka hukum Islam. Lembaga tersebut menyatakan bahwa menargetkan fasilitas sipil dan meneror orang-orang tak berdosa adalah tindakan kriminal menurut hukum Islam. Pada saat yang sama, Al-Azhar menilai tindakan itu melanggar seluruh norma dan konvensi internasional. Dengan demikian, kecaman Al-Azhar berdiri di atas dua pijakan sekaligus, yakni hukum Islam dan hukum internasional. Bagaimana mungkin serangan terhadap fasilitas sipil dibenarkan dengan alasan apa pun?
Al-Azhar juga menyoroti dimensi kedaulatan. Dalam pernyataannya, serangan tersebut disebut sebagai pelanggaran yang tidak dapat diterima terhadap keamanan dan kedaulatan Kerajaan. Artinya, persoalan ini tidak berhenti pada korban sipil, tetapi menyentuh prinsip kedaulatan sebuah negara. Bukankah kedaulatan negara adalah prinsip yang paling dasar dalam hubungan antarnegara?
Peringatan Al-Azhar berikutnya menyangkut eskalasi. Lembaga itu memperingatkan bahaya eskalasi ini dan potensi dampaknya terhadap stabilitas kawasan. Peringatan tersebut disampaikan pada hari yang sama dengan pernyataan kecaman, yakni 8 Oktober 2026. Al-Azhar tidak merinci bentuk eskalasi yang dimaksud, tetapi menempatkan stabilitas kawasan sebagai taruhan. Seberapa besar harga yang harus dibayar kawasan jika eskalasi terus berlanjut?
Seruan utama Al-Azhar adalah penghentian segera serangan-serangan tersebut. Dalam pernyataannya, Al-Azhar menyebut serangan itu sebagai serangan keji dan menuntut diakhirinya tanpa penundaan. Seruan ini bersifat langsung dan tidak bersyarat. Tidakkah sudah waktunya semua pihak menghentikan kekerasan terhadap warga sipil?
Al-Azhar kemudian mengaitkan persoalan ini dengan prinsip penghormatan kedaulatan dan keutuhan wilayah. Menurut pernyataan itu, penghormatan terhadap kedaulatan dan keutuhan wilayah setiap negara diperlukan untuk menghindari konsekuensi dahsyat dari konflik dan ketegangan. Al-Azhar menyatakan bahwa langkah itu akan membantu melindungi nyawa orang-orang tak berdosa dan menjaga sumber daya negara-negara. Bukankah melindungi nyawa warga sipil adalah kewajiban bersama seluruh komunitas internasional?
Pernyataan Al-Azhar ditutup dengan doa. Lembaga itu memanjatkan doa kepada Allah Yang Maha Kuasa agar melindungi tanah Dua Masjid Suci dari bahaya dan kejahatan. Al-Azhar juga berdoa agar Kerajaan dan rakyatnya terus diberkahi dengan keamanan, stabilitas, dan kemakmuran. Doa ini menyebut secara khusus tanah Dua Masjid Suci, merujuk pada Arab Saudi. Tidakkah doa untuk keamanan dan stabilitas itu mencerminkan kedekatan Al-Azhar dengan Kerajaan?
Pernyataan itu disampaikan dari Kairo, Mesir, dan dikutip oleh kantor berita Saudi SPA. Waktu penyampaiannya tercatat pada 8 Oktober 2026, pukul 21.10 waktu setempat atau 18.10 GMT. Al-Azhar adalah lembaga keagamaan yang berbasis di Kairo dan pernyataannya menjadi salah satu respons resmi terhadap serangan tersebut. Mengapa suara lembaga keagamaan seperti Al-Azhar penting dalam situasi semacam ini?
Dalam pernyataan yang dikutip SPA itu, Al-Azhar tidak menyebut pihak yang bertanggung jawab atas serangan. Lembaga tersebut juga tidak merinci jumlah korban, lokasi spesifik di dalam bandara, atau kronologi serangan. Yang disampaikan adalah kecaman, peringatan terhadap eskalasi, seruan penghentian serangan, penegasan prinsip kedaulatan, dan doa untuk Kerajaan. Bukankah kejelasan soal tanggung jawab menjadi pertanyaan yang menggantung?
Al-Azhar menegaskan bahwa menargetkan fasilitas sipil dan meneror orang-orang tak berdosa adalah tindakan kriminal menurut hukum Islam. Pernyataan itu juga menyebut tindakan tersebut melanggar seluruh norma dan konvensi internasional. Dengan rumusan itu, Al-Azhar menempatkan serangan terhadap bandara sebagai pelanggaran ganda, baik dalam kerangka syariat maupun dalam kerangka hukum internasional. Tidakkah dua kerangka ini saling menguatkan?
Yang juga ditekankan Al-Azhar adalah bahwa serangan tersebut merupakan pelanggaran yang tidak dapat diterima terhadap keamanan dan kedaulatan Kerajaan. Frasa keamanan dan kedaulatan menunjukkan bahwa yang disorot bukan hanya keselamatan jiwa, tetapi juga posisi Arab Saudi sebagai negara. Dalam pernyataannya, Al-Azhar tidak membatasi kecaman pada aspek kemanusiaan semata. Bukankah serangan terhadap bandara menyentuh dua hal sekaligus, yakni keselamatan publik dan kedaulatan negara?
Peringatan tentang eskalasi menjadi bagian penting dari pernyataan Al-Azhar. Lembaga itu menyebut adanya bahaya eskalasi dan potensi dampaknya bagi stabilitas kawasan. Pernyataan tersebut tidak menyebut secara rinci bentuk dampak yang dimaksud. Namun, Al-Azhar menempatkan stabilitas kawasan sebagai pertimbangan utama dalam seruannya. Tidakkah stabilitas kawasan adalah kepentingan semua negara di sekitarnya?
Seruan Al-Azhar untuk menghentikan serangan disampaikan dengan kata heinous attacks atau serangan-serangan keji. Pilihan kata itu menunjukkan penilaian moral yang tegas. Al-Azhar tidak hanya meminta penjelasan atau penyelidikan, tetapi menuntut penghentian segera. Seruan itu bersifat langsung kepada pihak yang melakukan serangan. Bukankah seruan penghentian kekerasan seharusnya tidak perlu diulang berkali-kali?
Al-Azhar juga menegaskan perlunya menghormati kedaulatan dan keutuhan wilayah setiap negara. Menurut pernyataannya, penghormatan itu diperlukan untuk menghindari konsekuensi dahsyat dari konflik dan ketegangan. Al-Azhar mengaitkan penghormatan kedaulatan dengan perlindungan nyawa orang-orang tak berdosa dan perlindungan sumber daya negara-negara. Dengan demikian, penghormatan kedaulatan diposisikan sebagai jalan menuju perlindungan, bukan sekadar formalitas diplomatik. Tidakkah penghormatan kedaulatan adalah prasyarat perdamaian?
Doa Al-Azhar menyebut tanah Dua Masjid Suci. Lembaga itu berdoa agar tanah tersebut dilindungi dari bahaya dan kejahatan. Al-Azhar juga berdoa agar Kerajaan dan rakyatnya terus diberkahi dengan keamanan, stabilitas, dan kemakmuran. Doa ini menutup pernyataan dengan nada harapan, setelah sebelumnya berisi kecaman dan peringatan. Bukankah doa untuk keamanan dan kemakmuran menunjukkan perhatian yang tulus terhadap Kerajaan dan rakyatnya?
Pernyataan Al-Azhar ini muncul di tengah situasi yang digambarkan lembaga itu sebagai eskalasi. Al-Azhar memperingatkan bahaya eskalasi tersebut dan potensi dampaknya bagi stabilitas kawasan. Namun, pernyataan itu tidak memerinci langkah-langkah yang diusulkan untuk meredakan ketegangan selain seruan penghentian serangan. Al-Azhar juga tidak menyebut mekanisme internasional tertentu yang harus dilibatkan. Bagaimana eskalasi bisa diredakan tanpa langkah konkret yang disepakati bersama?
Dari sisi isi, pernyataan Al-Azhar menyentuh empat hal utama. Pertama, kecaman terhadap serangan terhadap Bandara Abha dan Bandara King Khalid yang menimbulkan korban jiwa dan luka-luka di kalangan warga sipil. Kedua, penegasan bahwa menargetkan fasilitas sipil dan meneror orang-orang tak berdosa adalah tindakan kriminal menurut hukum Islam dan melanggar norma serta konvensi internasional. Ketiga, peringatan tentang bahaya eskalasi dan dampaknya bagi stabilitas kawasan, disertai seruan penghentian segera. Keempat, penegasan perlunya menghormati kedaulatan dan keutuhan wilayah, serta doa untuk tanah Dua Masjid Suci dan Kerajaan. Bukankah empat poin ini membentuk sikap yang utuh terhadap serangan tersebut?
Yang tidak disebutkan dalam pernyataan itu juga perlu dicatat. Al-Azhar tidak menyebut jumlah korban, tidak menyebut identitas pihak yang menyerang, tidak menyebut lokasi spesifik di dalam kedua bandara, dan tidak menyebut kronologi serangan. Al-Azhar juga tidak menyebut nilai kerusakan atau dampak operasional terhadap penerbangan. Semua rincian itu tidak ada dalam pernyataan yang dikutip SPA. Tidakkah ketiadaan rincian itu membuat pernyataan lebih bersifat posisi moral dan hukum daripada laporan peristiwa?
Al-Azhar menyampaikan pernyataannya dari Kairo. Sebagai lembaga keagamaan yang berpengaruh, kecaman Al-Azhar menambah daftar respons terhadap serangan tersebut. Pernyataan itu dikutip oleh kantor berita Saudi SPA dan diberi waktu 21.10 waktu setempat atau 18.10 GMT pada 8 Oktober 2026. Dengan demikian, pernyataan itu tersedia untuk publik pada hari yang sama. Bukankah kecepatan respons semacam ini menunjukkan tingkat perhatian yang tinggi?
Dalam pernyataannya, Al-Azhar menegaskan bahwa tindakan menargetkan fasilitas sipil dan meneror orang-orang tak berdosa melanggar seluruh norma dan konvensi internasional. Rumusan itu menempatkan serangan tersebut sebagai pelanggaran terhadap tatanan internasional, bukan hanya terhadap satu negara. Al-Azhar juga menyebutnya sebagai pelanggaran yang tidak dapat diterima terhadap keamanan dan kedaulatan Kerajaan. Dengan dua rumusan itu, Al-Azhar menyoroti dimensi global dan dimensi nasional sekaligus. Tidakkah pelanggaran terhadap norma internasional selalu berdampak lebih luas dari satu negara?
Al-Azhar juga menyerukan perlunya menghormati kedaulatan dan keutuhan wilayah setiap negara. Menurut pernyataannya, hal itu diperlukan untuk menghindari konsekuensi dahsyat dari konflik dan ketegangan. Al-Azhar mengaitkan penghormatan tersebut dengan perlindungan nyawa orang-orang tak berdosa dan perlindungan sumber daya negara-negara. Ini menempatkan penghormatan kedaulatan sebagai instrumen perlindungan, bukan sekadar prinsip abstrak. Bukankah perlindungan nyawa dan sumber daya adalah tujuan yang paling konkret?
Pernyataan Al-Azhar ditutup dengan doa kepada Allah Yang Maha Kuasa. Doa itu memohon perlindungan bagi tanah Dua Masjid Suci dari bahaya dan kejahatan. Al-Azhar juga memohon agar Kerajaan dan rakyatnya terus diberkahi dengan keamanan, stabilitas, dan kemakmuran. Doa tersebut menyebut tiga hal, yakni keamanan, stabilitas, dan kemakmuran. Tidakkah tiga hal itu merupakan harapan paling dasar bagi setiap negara dan rakyatnya?
Hingga pernyataan itu dikutip SPA, Al-Azhar tidak menyebut langkah lanjutan apa pun di luar kecaman, peringatan, seruan, penegasan prinsip, dan doa. Tidak ada penyebutan soal penyelidikan, sanksi, atau mekanisme internasional tertentu. Yang disampaikan adalah sikap resmi lembaga tersebut terhadap serangan terhadap Bandara Abha dan Bandara King Khalid. Bukankah sikap resmi semacam ini tetap penting sebagai rujukan moral di tengah ketegangan?
Apa yang dikutuk Al-Azhar terkait serangan terhadap bandara di Arab Saudi? Al-Azhar mengutuk serangan terhadap Bandara Abha dan Bandara King Khalid di Arab Saudi. Menurut pernyataan yang dikutip SPA dari Kairo pada 8 Oktober 2026, serangan itu mengakibatkan korban jiwa dan luka-luka di kalangan warga sipil. Al-Azhar menegaskan bahwa menargetkan fasilitas sipil dan meneror orang-orang tak berdosa adalah tindakan kriminal menurut hukum Islam dan melanggar seluruh norma serta konvensi internasional. Al-Azhar juga menyebut tindakan itu sebagai pelanggaran yang tidak dapat diterima terhadap keamanan dan kedaulatan Kerajaan.
Apa peringatan Al-Azhar soal eskalasi dan stabilitas kawasan? Dalam pernyataannya, Al-Azhar memperingatkan bahaya eskalasi ini dan potensi dampaknya terhadap stabilitas kawasan. Peringatan itu disampaikan bersamaan dengan kecaman terhadap serangan terhadap Bandara Abha dan Bandara King Khalid. Al-Azhar menyerukan penghentian segera serangan-serangan yang disebutnya keji tersebut. Lembaga itu juga menegaskan perlunya menghormati kedaulatan dan keutuhan wilayah setiap negara untuk menghindari konsekuensi dahsyat dari konflik dan ketegangan, demi melindungi nyawa orang tak berdosa dan menjaga sumber daya negara.
Apa isi doa Al-Azhar untuk Arab Saudi? Al-Azhar memanjatkan doa kepada Allah Yang Maha Kuasa agar melindungi tanah Dua Masjid Suci dari bahaya dan kejahatan. Al-Azhar juga berdoa agar Kerajaan dan rakyatnya terus diberkahi dengan keamanan, stabilitas, dan kemakmuran. Doa itu menjadi penutup pernyataan yang dikutip kantor berita Saudi SPA dari Kairo pada 8 Oktober 2026, pukul 21.10 waktu setempat atau 18.10 GMT. Doa tersebut menyebut tiga hal, yakni keamanan, stabilitas, dan kemakmuran bagi Kerajaan serta rakyatnya.
Prinsip apa yang ditekankan Al-Azhar dalam pernyataannya? Al-Azhar menekankan perlunya menghormati kedaulatan dan keutuhan wilayah setiap negara. Menurut pernyataannya, penghormatan itu diperlukan untuk menghindari konsekuensi dahsyat dari konflik dan ketegangan. Al-Azhar mengaitkan penghormatan kedaulatan dengan perlindungan nyawa orang-orang tak berdosa dan perlindungan sumber daya negara-negara. Lembaga itu juga menegaskan bahwa menargetkan fasilitas sipil dan meneror orang tak berdosa adalah tindakan kriminal menurut hukum Islam serta melanggar seluruh norma dan konvensi internasional.
Rincian apa yang tidak disebutkan dalam pernyataan Al-Azhar? Pernyataan Al-Azhar yang dikutip SPA tidak menyebut pihak yang bertanggung jawab atas serangan. Lembaga itu juga tidak merinci jumlah korban, lokasi spesifik di dalam Bandara Abha dan Bandara King Khalid, maupun kronologi serangan. Tidak ada penyebutan nilai kerusakan atau dampak operasional terhadap penerbangan. Al-Azhar juga tidak menyebut langkah lanjutan seperti penyelidikan, sanksi, atau mekanisme internasional tertentu. Yang disampaikan adalah kecaman, peringatan terhadap eskalasi, seruan penghentian serangan, penegasan prinsip kedaulatan, dan doa untuk Kerajaan.