Tim paramedis Saudi Red Crescent Authority (SRCA) di Makkah memulihkan detak jantung seorang jemaah haji asal Maroko yang berusia tujuh puluhan setelah ia mengalami henti jantung di area tengah Masjidil Haram.
Seperti dilaporkan kantor berita Saudi SPA pada 27 Maret 2025, jemaah tersebut kehilangan kesadaran saat dalam perjalanan menuju masjid. Tim respons cepat yang ditempatkan di dekat lokasi sebagai bagian dari rencana yang telah disiapkan sebelumnya untuk malam ke-27 Ramadan segera memberikan bantuan langsung dan efektif.
Tim paramedis melakukan resusitasi jantung paru (CPR) dengan perangkat kompresi dada LUCAS dan menggunakan defibrillator eksternal otomatis sebelum membawa jemaah tersebut ke fasilitas medis terdekat untuk perawatan lebih lanjut.
Insiden ini terjadi pada malam ke-27 Ramadan, salah satu malam paling padat di Masjidil Haram, ketika ratusan ribu jemaah berkumpul untuk ibadah. Penempatan tim medis di area strategis menjadi bagian dari upaya berkelanjutan otoritas Saudi untuk menjaga keselamatan jemaah selama periode puncak musim umrah dan haji.
SRCA tidak merinci identitas jemaah, kondisi terkini setelah perawatan, atau fasilitas medis spesifik yang menerimanya. Rilis juga tidak menyebutkan jumlah total personel medis yang dikerahkan pada malam tersebut atau lokasi persis kejadian di dalam area masjid.
Apa yang terjadi pada jemaah Maroko tersebut? Seorang jemaah haji asal Maroko berusia tujuh puluhan mengalami henti jantung dan kehilangan kesadaran saat dalam perjalanan menuju Masjidil Haram. Tim paramedis SRCA yang berada di dekat lokasi segera memberikan pertolongan. Mereka melakukan CPR dengan perangkat LUCAS dan menggunakan defibrillator eksternal otomatis. Detak jantung jemaah berhasil dipulihkan sebelum ia dibawa ke fasilitas medis terdekat untuk perawatan lebih lanjut, menurut laporan SPA.
Bagaimana tim paramedis SRCA merespons kejadian ini? Tim respons cepat SRCA yang ditempatkan di dekat lokasi sebagai bagian dari rencana yang telah disiapkan sebelumnya untuk malam ke-27 Ramadan segera memberikan bantuan langsung dan efektif. Mereka melakukan resusitasi jantung paru menggunakan perangkat kompresi dada LUCAS dan memanfaatkan defibrillator eksternal otomatis. Setelah detak jantung jemaah pulih, tim membawanya ke fasilitas medis terdekat untuk perawatan lebih lanjut, seperti dilaporkan kantor berita Saudi SPA.
Mengapa penempatan tim medis di area Masjidil Haram penting? Malam ke-27 Ramadan merupakan salah satu malam paling padat di Masjidil Haram, dengan ratusan ribu jemaah berkumpul untuk ibadah. Penempatan tim medis di area strategis merupakan bagian dari rencana yang telah disiapkan sebelumnya oleh SRCA. Langkah ini memungkinkan respons cepat terhadap keadaan darurat medis seperti henti jantung. Kejadian ini menunjukkan pentingnya kesiapan tim medis di lokasi padat jemaah selama periode puncak musim umrah dan haji.
Apa peran perangkat LUCAS dan defibrillator dalam penyelamatan ini? Perangkat LUCAS digunakan untuk melakukan kompresi dada secara otomatis selama resusitasi jantung paru, sementara defibrillator eksternal otomatis digunakan untuk memberikan kejutan listrik yang dapat memulihkan irama jantung normal. Kedua perangkat ini merupakan bagian dari peralatan standar yang digunakan tim paramedis SRCA dalam menangani kasus henti jantung. Kombinasi CPR dengan perangkat LUCAS dan defibrillator eksternal otomatis membantu memulihkan detak jantung jemaah Maroko tersebut sebelum dibawa ke fasilitas medis terdekat.
Informasi apa yang tidak disebutkan dalam laporan SRCA? Laporan SRCA dan SPA tidak merinci identitas jemaah Maroko tersebut, kondisi terkini setelah perawatan, atau fasilitas medis spesifik yang menerimanya. Rilis juga tidak menyebutkan jumlah total personel medis yang dikerahkan pada malam ke-27 Ramadan atau lokasi persis kejadian di dalam area Masjidil Haram. Selain itu, tidak ada informasi tentang berapa lama proses penyelamatan berlangsung atau apakah ada faktor medis lain yang memengaruhi kondisi jemaah sebelum kejadian tersebut.