Sultan Haji Hassanal Bolkiah dari Brunei Darussalam menerima Ketua Islamic Development Bank (IsDB) Group Dr. Muhammad Al Jasser di Istana Nurul Iman Palace. Pertemuan itu berlangsung di sela kunjungan resmi Dr. Al Jasser ke Brunei.
Seperti dilaporkan kantor berita Saudi SPA pada 6 Oktober 2026, kedua pihak membahas Country Engagement Framework (CEF) pertama untuk periode 2026–2028. Kerangka kerja sama itu diluncurkan selama kunjungan tersebut sebagai pilar utama untuk memperdalam kerja sama antara kedua pihak.
CEF tersebut diselaraskan dengan Brunei Vision 2035. Kerangka itu disebut sebagai platform strategis untuk menerjemahkan prioritas bersama menjadi inisiatif nyata yang mendukung agenda pembangunan jangka panjang Brunei.
Dr. Al Jasser menyampaikan penghargaannya atas arahan Sultan dalam meningkatkan kontribusi grup untuk mendukung perjalanan pembangunan Brunei.
Dr. Al Jasser juga memberi penjelasan kepada Sultan mengenai “10-Year Strategic Framework” IsDB Group untuk 2026–2035 dan “Five-Year Corporate Strategies” pertama untuk 2026–2030. Ia menekankan keselarasan kedua dokumen itu dengan Brunei Vision 2035 pada bidang-bidang utama, termasuk pengembangan sumber daya manusia, diversifikasi ekonomi, keuangan Islam, ketahanan iklim, dan pertumbuhan berbasis pengetahuan.
Kunjungan resmi Dr. Al Jasser ke Brunei menjadi latar pertemuan di Istana Nurul Iman Palace tersebut. Dalam pertemuan itu, kedua pihak meninjau CEF 2026–2028 yang baru diluncurkan, sementara Dr. Al Jasser memaparkan kerangka strategis sepuluh tahun dan strategi korporasi lima tahun pertama IsDB Group.
SPA menyebut pertemuan itu berlangsung pada 6 Oktober 2026. Laporan tersebut tidak menyebutkan rincian nilai pembiayaan, daftar proyek, jumlah peserta pertemuan, atau jadwal pelaksanaan inisiatif di bawah CEF.
Apa isi pertemuan Sultan Brunei dengan Ketua IsDB Group? Sultan Haji Hassanal Bolkiah menerima Ketua IsDB Group Dr. Muhammad Al Jasser di Istana Nurul Iman Palace. Kedua pihak meninjau Country Engagement Framework pertama untuk 2026–2028 yang diluncurkan selama kunjungan resmi tersebut. Dr. Al Jasser juga memaparkan 10-Year Strategic Framework IsDB Group 2026–2035 dan Five-Year Corporate Strategies 2026–2030. SPA melaporkan pertemuan itu pada 6 Oktober 2026 tanpa menyebut nilai pembiayaan atau daftar proyek.
Apa itu Country Engagement Framework 2026–2028? Country Engagement Framework 2026–2028 adalah kerangka kerja sama pertama antara IsDB Group dan Brunei Darussalam. Kerangka itu diluncurkan selama kunjungan resmi Dr. Al Jasser dan disebut sebagai pilar utama untuk memperdalam kerja sama kedua pihak. CEF tersebut diselaraskan dengan Brunei Vision 2035 dan berfungsi sebagai platform strategis untuk menerjemahkan prioritas bersama menjadi inisiatif nyata yang mendukung agenda pembangunan jangka panjang Brunei. SPA tidak merinci nilai atau daftar proyeknya.
Bidang apa saja yang selaras dengan Brunei Vision 2035? Dr. Al Jasser menekankan keselarasan 10-Year Strategic Framework IsDB Group 2026–2035 dan Five-Year Corporate Strategies 2026–2030 dengan Brunei Vision 2035. Bidang utama yang disebut meliputi pengembangan sumber daya manusia, diversifikasi ekonomi, keuangan Islam, ketahanan iklim, dan pertumbuhan berbasis pengetahuan. Kelima bidang itu disebut sebagai area yang menjadi titik temu antara strategi IsDB Group dan agenda pembangunan jangka panjang Brunei.
Di mana pertemuan itu berlangsung? Pertemuan berlangsung di Istana Nurul Iman Palace, Brunei Darussalam. Sultan Haji Hassanal Bolkiah menerima Dr. Muhammad Al Jasser di istana tersebut pada 6 Oktober 2026. Pertemuan itu digelar di sela kunjungan resmi Ketua IsDB Group ke Brunei. SPA melaporkan peristiwa ini dari Jeddah dengan waktu setempat 18.55 dan 15.55 GMT.
Apa yang tidak disebutkan dalam laporan SPA? Laporan SPA tidak menyebutkan nilai pembiayaan, daftar proyek konkret, jumlah peserta pertemuan, maupun jadwal pelaksanaan inisiatif di bawah Country Engagement Framework 2026–2028. Laporan juga tidak memuat pernyataan langsung dari Sultan Brunei mengenai hasil pertemuan. Selain itu, tidak ada rincian mengenai mekanisme pemantauan atau indikator capaian yang akan digunakan untuk mengukur pelaksanaan kerangka kerja sama tersebut.





