Jeddah menjadi lokasi penutupan program pelatihan pertama Arab Sports Press Association (ASPA) tentang pembuatan konten digital bagi para profesional media olahraga, yang berakhir pada 29 September 2026.
Seperti dilaporkan kantor berita Saudi SPA, program dua hari itu berlangsung di sela turnamen sepak bola Piala Arab Teluk ke-27. Kegiatan ini diselenggarakan bersama oleh ASPA dan Saudi Sports Media Federation dengan kerja sama International Sports Press Association (AIPS).
Program tersebut bertujuan mengembangkan keterampilan peserta dalam pembuatan konten digital melalui sesi teoretis dan lokakarya praktik yang dipimpin oleh profesional media Dima Al-Sayeh dan pelatih Abdelrahman Amroon. Para peserta dicalonkan oleh federasi-federasi Teluk yang ambil bagian dalam turnamen.
Presiden AIPS Gianni Merlo menghadiri upacara penutupan bersama pejabat olahraga dan tokoh media.
Pertanyaannya, mengapa pelatihan semacam ini baru digelar untuk pertama kalinya oleh ASPA? Bukankah kebutuhan media olahraga akan keterampilan digital sudah lama terasa di kawasan Teluk? Dan mengapa momen Piala Arab Teluk ke-27 dipilih sebagai latar penyelenggaraan, bukan waktu lain yang lebih lengang?
Jeddah sebagai tuan rumah penutupan program ini menempatkan kota tersebut dalam posisi yang jarang disorot: bukan hanya sebagai kota penyelenggara pertandingan, tetapi juga sebagai tempat berkumpulnya para pengelola media olahraga dari berbagai federasi Teluk. Apakah ini pertanda bahwa Jeddah mulai dipandang sebagai pusat pengembangan kapasitas media olahraga di kawasan?
Yang menarik, pelatihan ini tidak berdiri sendiri. Ada tiga pihak yang terlibat: ASPA sebagai penyelenggara utama, Saudi Sports Media Federation sebagai mitra tuan rumah, dan AIPS sebagai organisasi internasional yang memberikan kerja sama. Bagaimana pembagian peran ketiga lembaga ini memengaruhi bentuk program yang dijalankan? Apakah kerja sama lintas negara semacam ini akan menjadi pola tetap untuk pelatihan-pelatihan berikutnya?
Nama Dima Al-Sayeh dan Abdelrahman Amroon disebut sebagai pemimpin sesi teoretis dan lokakarya praktik. Keduanya membawa keahlian masing-masing ke ruang pelatihan, meski rincian materi yang mereka sampaikan tidak diuraikan dalam rilis. Apakah kombinasi sesi teori dan praktik cukup untuk membekali peserta menghadapi tuntutan konten digital yang bergerak cepat?
Para peserta sendiri bukan sembarang peserta. Mereka dicalonkan oleh federasi-federasi Teluk yang mengikuti turnamen. Artinya, seleksi peserta melekat pada struktur kompetisi yang sedang berlangsung. Bagaimana mekanisme pencalonan itu bekerja? Apakah setiap federasi mengirimkan wakilnya berdasarkan kriteria tertentu, atau berdasarkan kebutuhan masing-masing negara?
Kehadiran Presiden AIPS Gianni Merlo pada upacara penutupan menambah bobot tersendiri. Kehadiran seorang pejabat organisasi media olahraga internasional di sebuah program pelatihan regional menunjukkan perhatian terhadap pengembangan kapasitas di kawasan Teluk. Namun, apa dampak nyata dari kehadiran tersebut bagi para peserta? Apakah sekadar simbolis, atau ada komitmen lanjutan yang menyertainya?
Program dua hari memang terbilang singkat. Dalam rentang waktu sesingkat itu, sesi teoretis dan lokakarya praktik harus berbagi panggung. Apakah dua hari cukup untuk menghasilkan perubahan keterampilan yang terukur? Ataukah program ini lebih tepat dipahami sebagai langkah awal yang akan berlanjut ke tahap-tahap berikutnya?
Piala Arab Teluk ke-27 menjadi konteks yang tidak bisa dilepaskan. Turnamen ini mempertemukan tim-tim dari kawasan Teluk, dan di sisi lain mempertemukan pula para profesional media yang meliputnya. Menjadikan turnamen sebagai latar pelatihan berarti memanfaatkan momentum ketika para pelaku media sudah berkumpul di satu tempat. Apakah ini strategi efisiensi, atau memang satu-satunya cara menjangkau peserta dari berbagai negara dalam waktu bersamaan?
ASPA sebagai organisasi pers olahraga Arab menempatkan program ini sebagai yang pertama. Kata “pertama” menyiratkan bahwa sebelumnya belum ada program serupa yang diselenggarakan organisasi ini. Apa yang mendasari keputusan untuk memulai sekarang? Apakah ada kebutuhan mendesak di lapangan yang memicu inisiatif ini?
Saudi Sports Media Federation berperan sebagai mitra penyelenggara di sisi Saudi. Keterlibatan federasi ini menunjukkan bahwa Arab Saudi tidak hanya menjadi tuan rumah turnamen, tetapi juga terlibat aktif dalam pengembangan sumber daya manusia di bidang media olahraga. Bagaimana peran ini sejalan dengan posisi Saudi dalam peta media olahraga regional?
AIPS, sebagai organisasi internasional, membawa dimensi global ke dalam program yang berskala regional ini. Kerja sama antara organisasi Arab dan organisasi internasional menciptakan jembatan antara praktik di kawasan Teluk dan standar global. Apakah jembatan ini akan terus dibangun, atau berhenti pada satu program saja?
Pelatihan ini menyasar keterampilan pembuatan konten digital. Di era ketika platform digital menjadi kanal utama distribusi informasi olahraga, keterampilan ini menjadi kebutuhan dasar, bukan pelengkap. Namun, tanpa rincian kurikulum, sulit menilai sejauh mana program ini menjawab kebutuhan tersebut. Apakah peserta diajarkan produksi video, penulisan untuk platform digital, pengelolaan media sosial, atau kombinasi semuanya?
Pertanyaan lain yang mengemuka: bagaimana keberlanjutan program ini? Rilis hanya menyebut penutupan program pertama, tanpa menyampaikan rencana lanjutan. Apakah akan ada program kedua, ketiga, dan seterusnya? Ataukah evaluasi akan dilakukan lebih dulu sebelum langkah berikutnya diambil?
Lokakarya praktik yang dipimpin Abdelrahman Amroon dan sesi teoretis yang dipimpin Dima Al-Sayeh menunjukkan pembagian antara pengetahuan konseptual dan penerapan. Model ini lazim dalam pelatihan profesional, tetapi efektivitasnya bergantung pada keseimbangan antara kedua bagian. Apakah porsi praktik cukup dominan untuk memastikan peserta benar-benar menguasai alat dan teknik yang diajarkan?
Para peserta yang dicalonkan federasi Teluk membawa latar belakang yang beragam. Ada yang mungkin sudah berpengalaman bertahun-tahun, ada pula yang baru memulai. Bagaimana program dua hari menangani keragaman tingkat keterampilan ini? Apakah materi disesuaikan, atau disampaikan secara seragam untuk semua peserta?
Upacara penutupan yang dihadiri pejabat olahraga dan tokoh media menunjukkan bahwa program ini mendapat perhatian dari kalangan atas ekosistem olahraga. Kehadiran mereka bisa dibaca sebagai pengakuan atas pentingnya pengembangan media olahraga. Namun, apakah pengakuan itu akan diikuti dengan dukungan berkelanjutan, misalnya dalam bentuk pendanaan atau fasilitasi program lanjutan?
Jeddah sebagai kota tuan rumah memiliki infrastruktur dan pengalaman dalam menyelenggarakan acara olahraga. Penyelenggaraan program pelatihan di sela turnamen besar menunjukkan kemampuan kota ini menangani agenda paralel. Apakah ini membuka peluang bagi Jeddah untuk menjadi tuan rumah program-program serupa di masa depan?
Yang tidak disebutkan dalam rilis juga layak dicatat. Tidak ada informasi tentang jumlah peserta, durasi sesi per hari, materi spesifik yang diajarkan, atau indikator keberhasilan program. Tidak ada pula keterangan tentang biaya penyelenggaraan atau sumber pendanaannya. Ketiadaan rincian ini membuat penilaian menyeluruh sulit dilakukan, meski kerangka umum program sudah tergambar jelas.
Apakah program pelatihan semacam ini akan menjadi agenda rutin ASPA? Bagaimana ia akan terhubung dengan turnamen-turnamen berikutnya di kawasan? Dan yang tak kalah penting, apakah keterampilan yang diperoleh peserta akan berdampak pada kualitas liputan media olahraga Arab di masa depan? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu belum tersedia dalam rilis yang diterbitkan SPA.
Apa itu program pelatihan ASPA di Jeddah? Program pelatihan pertama Arab Sports Press Association (ASPA) tentang pembuatan konten digital bagi profesional media olahraga berlangsung dua hari di Jeddah dan berakhir pada 29 September 2026. Program ini digelar di sela turnamen Piala Arab Teluk ke-27, diselenggarakan bersama Saudi Sports Media Federation dengan kerja sama International Sports Press Association (AIPS). Kegiatan mencakup sesi teoretis dan lokakarya praktik yang dipimpin Dima Al-Sayeh dan Abdelrahman Amroon.
Siapa saja yang terlibat dalam penyelenggaraan program ini? Penyelenggaraan melibatkan tiga pihak: ASPA sebagai penyelenggara utama, Saudi Sports Media Federation sebagai mitra di sisi Saudi, dan AIPS sebagai organisasi internasional yang bekerja sama. Presiden AIPS Gianni Merlo menghadiri upacara penutupan bersama pejabat olahraga dan tokoh media. Para peserta dicalonkan oleh federasi-federasi Teluk yang ambil bagian dalam Piala Arab Teluk ke-27. Rilis SPA tidak menyebut jumlah peserta maupun rincian materi yang diajarkan.
Apa tujuan program pelatihan ini? Program ini bertujuan mengembangkan keterampilan peserta dalam pembuatan konten digital melalui sesi teoretis dan lokakarya praktik. Sesi dipimpin profesional media Dima Al-Sayeh dan pelatih Abdelrahman Amroon. Peserta berasal dari federasi Teluk yang mengikuti turnamen. Rilis tidak menguraikan kurikulum spesifik, indikator keberhasilan, atau rencana program lanjutan setelah penutupan program pertama ini.





