Di Najran, daun kurma yang dikeringkan masih dibentuk menjadi wadah sajian yang disebut Al-Matarah, dipakai untuk menghidangkan kurma, kacang, kismis, manisan, serta hidangan tradisional seperti Mardoufah, Al-Raqash, dan roti Tannour.
Seperti dilaporkan kantor berita Saudi SPA pada 28 Maret 2025, kerajinan anyaman daun kurma di Region Najran disebut sebagai salah satu kerajinan tradisional paling menonjol dan populer yang mencerminkan warisan budaya serta kebiasaan lokal. Kerajinan ini tetap hadir hingga kini di berbagai acara dan perayaan sebagai alat untuk menyajikan hidangan tamu dan makanan, dan mempertahankan nilai material serta nilai warisannya meskipun barang-barang rumah tangga berkembang dan pilihan modern tersedia.
Pernyataan SPA itu menempatkan anyaman daun kurma bukan sebagai sisa masa lalu, melainkan sebagai benda yang masih dipakai. Pertanyaannya, apa yang membuat sebuah wadah anyaman bertahan ketika peralatan rumah tangga modern sudah begitu mudah didapat?
Dalam laporan tersebut, salah satu produk yang disebut adalah Al-Matarah. Benda ini dibuat dari daun kurma dan digunakan sebagai wadah penyajian di pertemuan dan ruang tamu di wilayah itu. Fungsinya jelas: menghidangkan kurma, kacang, kismis, manisan, serta hidangan tradisional seperti Mardoufah, Al-Raqash, dan roti Tannour.
Saleh Abdullah, penjual di salah satu toko warisan di Kota Najran, menjelaskan bahwa produk daun kurma termasuk kerajinan tradisional di wilayah tersebut yang permintaannya besar sepanjang tahun, termasuk pada hari raya dan pernikahan, karena dipakai untuk menyajikan hidangan tamu dan hidangan tradisional yang dikenal di wilayah itu. Ia juga menyebut bahwa proses pembuatan Al-Matarah meliputi pengumpulan dan pengeringan daun kurma, setelah itu produk dibentuk sesuai ukuran yang dibutuhkan.
Dari keterangan itu, rantai kerjanya sederhana tetapi menuntut kesabaran: daun dikumpulkan, dikeringkan, lalu dibentuk. Tidak ada tahap yang bisa dilewati. Pertanyaannya, berapa banyak daun yang harus disiapkan sebelum seorang perajin bisa menentukan ukuran satu wadah?
Yang menarik, SPA mencatat bahwa permintaan datang sepanjang tahun, bukan hanya pada musim tertentu. Hari raya dan pernikahan menjadi puncak pemakaian, karena di momen itulah hidangan tamu dan hidangan tradisional disajikan. Artinya, anyaman daun kurma terikat pada ritme sosial Najran: kapan orang berkumpul, kapan tamu datang, kapan meja hidangan disiapkan.
Al-Matarah dalam konteks itu bukan sekadar wadah. Ia menjadi bagian dari cara menjamu. Kurma, kacang, kismis, manisan, Mardoufah, Al-Raqash, dan roti Tannour adalah hidangan yang disebut SPA, dan semuanya punya tempat dalam penyajian yang sama. Pertanyaannya, apakah sebuah hidangan tradisional terasa sama jika disajikan dengan wadah yang berbeda?
SPA juga menegaskan bahwa kerajinan ini mencerminkan warisan budaya dan kebiasaan lokal. Ia tetap hadir di berbagai acara dan perayaan, dan mempertahankan nilai material serta nilai warisannya. Dua nilai itu disebut berdampingan: nilai material, karena benda itu dipakai dan diperdagangkan; nilai warisan, karena benda itu melekat pada kebiasaan setempat.
Kehadiran penjual seperti Saleh Abdullah di toko warisan Kota Najran menunjukkan sisi material itu. Ada toko, ada pembeli, ada permintaan yang berlangsung sepanjang tahun. Namun SPA tidak menyebut angka penjualan, jumlah perajin, atau harga produk. Yang dilaporkan hanya bahwa permintaannya besar pada hari raya dan pernikahan.
Pertanyaannya, siapa yang paling banyak membeli Al-Matarah: keluarga yang menyelenggarakan pernikahan, atau rumah tangga yang menyimpannya untuk tamu sehari-hari?
Proses pengeringan daun kurma juga menyiratkan waktu. Daun tidak bisa langsung dianyam; ia harus dikumpulkan lebih dulu, lalu dikeringkan. Setelah itu barulah produk dibentuk sesuai ukuran yang diperlukan. Urutan ini menjelaskan mengapa kerajinan semacam ini biasanya dijalankan sebagai keterampilan yang diwariskan, bukan sebagai produksi cepat.
SPA menyebut kerajinan anyaman daun kurma di Region Najran sebagai salah satu kerajinan tradisional yang paling menonjol dan populer. Kata “populer” di situ bersanding dengan kenyataan bahwa pilihan modern tersedia. Laporan itu tidak menyatakan bahwa anyaman daun kurma bersaing secara langsung dengan barang modern; ia hanya menyatakan bahwa kerajinan ini tetap hadir meskipun barang rumah tangga berkembang.
Pertanyaannya, apa yang membuat sebuah benda tetap dipilih ketika alternatif yang lebih praktis sudah ada di pasaran?
Dalam konteks Najran, jawaban yang tersedia dari laporan SPA adalah fungsi sosialnya. Al-Matarah dipakai di pertemuan dan ruang tamu. Ia dipakai untuk menyajikan hidangan tamu. Ia muncul pada hari raya dan pernikahan. Semua itu adalah momen ketika penyajian makanan menjadi bagian dari penghormatan kepada tamu.
Hidangan yang disebut SPA juga memberi gambaran tentang meja Najran. Ada kurma, kacang, kismis, dan manisan untuk suguhan. Ada Mardoufah, Al-Raqash, dan roti Tannour untuk hidangan yang lebih mengenyangkan. Semua itu disebut dalam satu konteks: penyajian dengan Al-Matarah.
Pertanyaannya, apakah daftar hidangan itu berubah menurut musim, atau tetap sama sepanjang tahun?
SPA tidak menjelaskan detail bentuk Al-Matarah, ukurannya, atau variasi desainnya. Yang disebut hanya bahwa produk dibentuk sesuai ukuran yang dibutuhkan. Dari situ bisa dipahami bahwa ukuran menyesuaikan kebutuhan pemakaian, bukan sebaliknya.
Begitu pula dengan bahan. Daun kurma adalah bahan utamanya. Tidak ada bahan lain yang disebut dalam laporan. Prosesnya: pengumpulan, pengeringan, pembentukan. Tiga langkah itu disebut secara berurutan oleh Saleh Abdullah.
Pertanyaannya, apakah setiap perajin memiliki ukuran standar sendiri, atau ukuran ditentukan oleh pesanan pembeli?
Yang jelas, kerajinan ini bertahan di Najran dan tetap menjadi bagian dari acara serta perayaan. SPA menempatkannya sebagai cerminan warisan budaya dan kebiasaan lokal, sekaligus sebagai benda yang masih dipakai untuk menjamu. Dua hal itu berjalan bersama: warisan yang dirawat, dan fungsi yang terus dipakai.
Pada akhirnya, laporan SPA menyisakan beberapa hal yang tidak disebutkan. Tidak ada data jumlah perajin, jumlah produksi, harga, atau jadwal pelatihan. Tidak ada penjelasan tentang jenis daun kurma tertentu yang dipakai, atau berapa lama proses pengeringan berlangsung. Tidak ada pula keterangan tentang pasar ekspor atau penjualan di luar Najran.
Yang tersedia adalah gambaran tentang sebuah kerajinan yang masih hidup: Al-Matarah dari daun kurma, dipakai untuk menyajikan kurma, kacang, kismis, manisan, Mardoufah, Al-Raqash, dan roti Tannour, dengan permintaan yang berlangsung sepanjang tahun dan memuncak pada hari raya serta pernikahan. Pertanyaannya, apakah generasi berikutnya di Najran akan tetap melihat Al-Matarah di ruang tamu mereka?
Apa itu Al-Matarah dan dari apa benda ini dibuat? Al-Matarah adalah produk anyaman yang dibuat dari daun kurma dan digunakan sebagai wadah penyajian di pertemuan serta ruang tamu di Region Najran. SPA menyebut benda ini dipakai untuk menghidangkan kurma, kacang, kismis, manisan, serta hidangan tradisional seperti Mardoufah, Al-Raqash, dan roti Tannour. Proses pembuatannya meliputi pengumpulan dan pengeringan daun kurma, lalu produk dibentuk sesuai ukuran yang dibutuhkan.
Kapan permintaan produk daun kurma meningkat di Najran? Saleh Abdullah, penjual di salah satu toko warisan di Kota Najran, menjelaskan bahwa produk daun kurma memiliki permintaan besar sepanjang tahun, termasuk pada hari raya dan pernikahan. Alasannya, produk ini dipakai untuk menyajikan hidangan tamu dan hidangan tradisional yang dikenal di wilayah tersebut. SPA tidak menyebut angka penjualan atau jumlah pembeli, hanya menyatakan bahwa permintaannya besar pada momen-momen itu.
Hidangan apa saja yang disajikan dengan Al-Matarah? SPA menyebut Al-Matarah digunakan untuk menyajikan kurma, kacang, kismis, dan manisan, serta hidangan tradisional seperti Mardoufah, Al-Raqash, dan roti Tannour. Daftar itu muncul dalam konteks penyajian di pertemuan dan ruang tamu di Region Najran. Laporan tidak menjelaskan apakah daftar hidangan berubah menurut musim atau tetap sama sepanjang tahun.
Mengapa kerajinan ini tetap bertahan meski ada barang modern? SPA menyatakan kerajinan anyaman daun kurma tetap hadir di berbagai acara dan perayaan sebagai alat menyajikan hidangan tamu dan makanan, serta mempertahankan nilai material dan nilai warisannya meskipun barang rumah tangga berkembang dan pilihan modern tersedia. Laporan tidak menyebut alasan tambahan di luar fungsi sosial dan nilai warisan tersebut. Tidak ada data tentang persaingan harga atau preferensi konsumen yang dirinci.
Apa saja tahapan pembuatan produk daun kurma? Menurut Saleh Abdullah, proses pembuatan Al-Matarah meliputi pengumpulan dan pengeringan daun kurma, setelah itu produk dibentuk sesuai ukuran yang dibutuhkan. SPA tidak menyebut berapa lama pengeringan berlangsung, jenis daun kurma tertentu yang dipakai, atau alat yang digunakan. Tiga tahap itu disebut secara berurutan dalam laporan, tanpa rincian tambahan mengenai teknik anyaman atau ukuran standar.
Apa yang tidak disebutkan dalam laporan SPA tentang kerajinan ini? Laporan SPA tidak menyebut jumlah perajin, jumlah produksi, harga produk, atau jadwal pelatihan. Tidak ada pula keterangan tentang pasar ekspor atau penjualan di luar Najran, jenis daun kurma tertentu, durasi pengeringan, atau variasi desain Al-Matarah. Yang dilaporkan adalah fungsi Al-Matarah, hidangan yang disajikan, permintaan sepanjang tahun, serta tahapan pembuatannya menurut seorang penjual di Kota Najran.