King Abdulaziz Foundation for Research and Archives (Darah) menerbitkan peta yang mendokumentasikan masjid dan situs paling terkemuka di Madinah tempat Nabi (PBUH) berdoa, lengkap dengan lokasi dan sebaran geografisnya di kota itu.
Seperti dilaporkan kantor berita Saudi SPA pada 30 September 2026, peta tersebut menampilkan sejumlah masjid dan situs bersejarah yang terkait dengan sirah kenabian, antara lain Masjid Al-Fath dan Masjid Bani Harithah.
Peta itu menyediakan dokumentasi bagi mereka yang berminat pada sirah kenabian dan sejarah Madinah, sehingga mereka dapat menemukan landmark tersebut dan menelusuri sebaran geografisnya di dalam batas-batas asli kota.
Dokumentasi semacam ini menempatkan lokasi-lokasi yang selama ini dikenal lewat riwayat lisan dan teks klasik ke dalam kerangka spasial yang bisa dibaca siapa saja. Bukankah pengetahuan tentang tempat sering kali baru terasa utuh ketika kita bisa melihatnya di atas peta?
Al-Fath Mosque dan Bani Harithah Mosque disebut secara khusus dalam rilis Darah. Keduanya termasuk situs yang dikaitkan dengan peristiwa dan riwayat dari masa kenabian di Madinah. Penyebutan keduanya menunjukkan bahwa peta ini tidak sekadar mendaftar bangunan, tetapi mengaitkan tiap titik dengan konteks sejarah yang menyertainya.
Yang menarik, peta ini menekankan sebaran lokasi di dalam batas-batas asli kota. Artinya, kerangka yang dipakai bukan tata ruang Madinah hari ini, melainkan bentang kota pada masa yang jauh lebih awal. Bukankah perbedaan batas kota antara dulu dan sekarang sering membuat kita salah membayangkan letak sebuah situs?
Bagi peneliti sirah, peta seperti ini berguna karena mempertemukan narasi tekstual dengan ruang nyata. Sebuah peristiwa yang disebut dalam riwayat menjadi lebih mudah dipahami ketika pembaca tahu di bagian mana kota itu ia terjadi, seberapa jauh dari pusat, dan bagaimana ia berhubungan dengan situs lain di sekitarnya.
Bagi masyarakat umum, manfaatnya berbeda tetapi tetap nyata. Peta memudahkan siapa pun yang ingin mengunjungi atau menelusuri lokasi-lokasi tersebut untuk mengenali letaknya dan memahami hubungan antar-situs. Bukankah perjalanan yang disertai pemahaman geografis cenderung memberi kesan yang lebih mendalam?
Darah, sebagai lembaga yang menangani penelitian dan arsip, memposisikan peta ini sebagai dokumentasi. Kata dokumentasi penting di sini: ia menyiratkan upaya merekam dan menyajikan, bukan sekadar mempromosikan. Peta menjadi rujukan yang bisa dipakai berulang kali oleh kalangan berbeda, dari akademisi hingga pengunjung biasa.
Rilis SPA tidak merinci berapa banyak masjid dan situs yang masuk dalam peta, tidak menyebut skala atau format penerbitannya, dan tidak menjelaskan metode penentuan batas-batas asli kota yang dipakai. Rilis juga tidak menyebut apakah peta tersedia dalam bentuk cetak, digital, atau keduanya.
Yang jelas, penyebutan Al-Fath Mosque dan Bani Harithah Mosque sebagai contoh menunjukkan bahwa cakupan peta lebih luas dari dua nama itu. Frasa “among others” dalam rilis mengindikasikan adanya situs lain yang turut dipetakan, meski daftar lengkapnya tidak diungkap.
Bagi pembaca yang menekuni sejarah Madinah, pertanyaan berikutnya wajar muncul: bagaimana peta ini memperlakukan situs yang lokasinya diperdebatkan? Rilis tidak membahas hal itu, sehingga tidak ada jawaban yang bisa dikutip dari sumber ini.
Yang bisa dipastikan, penerbitan peta ini menambah khazanah dokumentasi tentang Madinah dan sirah kenabian. Ia menyediakan cara pandang yang berbeda dari sekadar daftar nama: sebuah gambaran ruang yang menghubungkan tempat, peristiwa, dan riwayat dalam satu kerangka.
Apakah dokumentasi semacam ini akan diperluas ke situs lain di luar batas kota? Apakah akan ada pembaruan berkala seiring temuan penelitian baru? Rilis SPA tidak menyebutkannya, dan memang tidak semua pertanyaan perlu terjawab dalam satu pengumuman.
Yang tersaji hari ini adalah peta, lokasi, dan sebaran. Tiga hal itu sudah cukup untuk memberi pembaca titik awal menelusuri Madinah bukan hanya sebagai kota yang dikunjungi, tetapi sebagai ruang yang menyimpan jejak panjang.
Apa yang diterbitkan Darah? King Abdulaziz Foundation for Research and Archives (Darah) menerbitkan peta yang mendokumentasikan masjid dan situs paling terkemuka di Madinah tempat Nabi (PBUH) berdoa. Peta itu menampilkan lokasi dan sebaran geografis situs-situs tersebut di kota. Menurut SPA pada 30 September 2026, peta ini menyediakan dokumentasi bagi mereka yang berminat pada sirah kenabian dan sejarah Madinah.
Situs apa saja yang disebut dalam peta? Rilis SPA menyebut Masjid Al-Fath dan Masjid Bani Harithah sebagai contoh masjid dan situs bersejarah yang terkait dengan sirah kenabian. Frasa “among others” menunjukkan ada situs lain yang turut dipetakan, tetapi daftar lengkapnya tidak diungkap. Rilis juga tidak menyebut jumlah total masjid dan situs yang masuk dalam peta tersebut.
Apa manfaat peta ini bagi peneliti dan pengunjung? Peta ini memungkinkan peneliti dan pengunjung menemukan landmark tersebut dan menelusuri sebaran geografisnya di dalam batas-batas asli kota Madinah. Dokumentasi itu mempertemukan narasi sirah dengan ruang nyata, sehingga lokasi situs lebih mudah dipahami. Bagi pengunjung, peta membantu mengenali letak dan hubungan antar-situs sebelum atau selama menelusuri kota.
Apa yang tidak disebutkan dalam rilis SPA? Rilis SPA tidak merinci jumlah masjid dan situs yang dipetakan, tidak menyebut skala atau format penerbitannya, dan tidak menjelaskan metode penentuan batas-batas asli kota Madinah. Rilis juga tidak menyebut apakah peta tersedia dalam bentuk cetak, digital, atau keduanya. Tidak ada pula keterangan tentang perluasan ke situs di luar batas kota atau pembaruan berkala.





