Friday, October 30, 2026
Budaya

Diriyah Art Futures gelar pameran Maknana: Arkeologi Seni Media Baru Dunia Arab

Diriyah Art Futures gelar pameran Maknana: Arkeologi Seni Media Baru Dunia Arab

Diriyah Art Futures (DAF) mengumumkan pameran besar keduanya bertajuk Maknana: An Archaeology of New Media Art in the Arab World yang akan berlangsung dari 21 April hingga 19 Juli 2025 di DAF di Diriyah, Riyadh. Pengumuman itu disampaikan DAF melalui siaran pers.

Seperti dilaporkan kantor berita Saudi SPA pada 13 April 2025, pameran ini menghadirkan karya lebih dari 40 seniman dari kawasan MENA. Mereka disebut sebagai suara-suara perintis dari seluruh kawasan yang telah merangkul dan mendefinisikan ulang teknologi sebagai medium ekspresi kreatif.

Maknana membentang lintas dekade dan disiplin, dari seni video awal dan film eksperimental hingga sistem generatif dan media yang diperluas. Pameran ini menawarkan survei langka tentang bagaimana seniman Arab telah terlibat dengan dan membayangkan ulang lanskap digital dengan istilah mereka sendiri.

Menurut siaran pers tersebut, istilah Arab ‘Maknana’, yang diterjemahkan sebagai otomasi, menginspirasi pertanyaan utama pameran: bagaimana seniman Arab telah menavigasi, memanfaatkan ulang, dan menantang teknologi untuk membentuk kosakata kreatif mereka sendiri? Pertanyaan itu menjadi benang merah yang menyatukan seluruh karya yang dipamerkan.

Pameran ini disusun dalam empat bagian tematik: Automation, Autonomy, Ripples, dan Glitch. Keempat bagian itu melacak kekhawatiran dan gestur artistik yang berulang lintas generasi, geografi, dan paradigma teknologi yang berbeda.

Bagaimana sebuah istilah yang berarti otomasi bisa menjadi pintu masuk untuk membaca sejarah seni media baru di dunia Arab? DAF tampaknya ingin menjawabnya lewat susunan karya yang tidak kronologis semata, melainkan tematik.

Bagian Automation menyoroti bagaimana seniman merespons mesin dan proses otomatis. Bagian Autonomy menyoroti otonomi artistik di tengah teknologi yang terus berkembang. Bagian Ripples menelusuri dampak yang menjalar dari satu praktik ke praktik lain. Bagian Glitch menyoroti gangguan, kesalahan, dan celah sebagai bagian dari bahasa kreatif.

Pameran ini menghadirkan lebih dari 40 seniman dari kawasan MENA. Jumlah itu menjadikannya salah satu survei yang cukup luas untuk membaca perkembangan seni media baru Arab dalam beberapa dekade terakhir.

Apakah jumlah seniman yang besar itu cukup untuk memetakan lanskap seni media baru Arab yang begitu beragam? DAF menyebutnya sebagai survei langka, sebuah penanda bahwa praktik ini belum sering dipamerkan dalam skala seperti itu.

Rentang waktu yang dibentangkan pameran ini mencakup seni video awal dan film eksperimental. Keduanya merupakan bentuk yang lebih dulu akrab dengan teknologi rekam dan proyeksi sebelum media digital menjadi arus utama.

Dari sana, Maknana bergerak ke sistem generatif dan media yang diperluas. Sistem generatif merujuk pada karya yang melibatkan proses komputasional, sementara media yang diperluas mencakup praktik yang melampaui batas medium konvensional.

Bagaimana seniman Arab menavigasi teknologi yang sering datang dari luar kawasan? Siaran pers menyebut mereka menavigasi, memanfaatkan ulang, dan menantang teknologi. Ketiga kata kerja itu menunjukkan posisi aktif, bukan sekadar penerima.

Pemanfaatan ulang menjadi penting karena teknologi tidak selalu hadir dalam bentuk yang netral. Seniman disebut membentuk kosakata kreatif mereka sendiri, artinya teknologi tidak hanya dipakai, tetapi juga diubah maknanya.

Menantang teknologi juga menjadi bagian dari cerita. Tantangan itu bisa berarti mempertanyakan fungsi, membelokkan penggunaan, atau menunjukkan batas dari sebuah sistem.

Apakah pameran ini akan menjadi rujukan bagi penulisan sejarah seni media baru Arab? DAF menyebutnya sebagai arkeologi, sebuah kata yang mengandaikan penggalian lapisan-lapisan praktik yang mungkin belum banyak dibahas.

Istilah arkeologi dalam judul pameran menunjukkan pendekatan yang menelusuri jejak, bukan hanya menampilkan karya terkini. Dengan begitu, Maknana mencoba membaca masa lalu media untuk memahami masa kini.

Empat bagian tematiknya, Automation, Autonomy, Ripples, dan Glitch, menjadi kerangka untuk membaca ulang karya-karya itu. Keempatnya bukan sekadar kategori, melainkan cara melihat pola yang berulang.

Automation dan Autonomy berdampingan, seolah menunjukkan ketegangan antara proses otomatis dan kehendak otonom seniman. Ripples dan Glitch melengkapi dengan gagasan dampak yang menjalar dan gangguan yang produktif.

Bagaimana glitch, yang biasanya dianggap kesalahan, bisa menjadi bagian dari kosakata kreatif? Dalam seni media baru, glitch sering dipakai untuk menunjukkan bahwa teknologi tidak pernah sepenuhnya mulus atau netral.

Sejalan dengan pameran, Diriyah Art Futures akan menyelenggarakan program publik berupa talks, pertunjukan, pemutaran film, dan lokakarya. Program itu memperluas tema Maknana dan menawarkan keterlibatan langsung pengunjung dengan para seniman serta pemikir di bidang seni media baru.

Apakah program publik ini akan menjadi ruang dialog yang setara antara seniman dan pengunjung? DAF menyebutnya sebagai kesempatan untuk keterlibatan langsung, sebuah penanda bahwa pameran tidak berhenti di ruang galeri.

Talks, pertunjukan, pemutaran, dan lokakarya menjadi empat bentuk program yang disebutkan. Masing-masing memberi pintu masuk berbeda ke tema otomasi, otonomi, riak, dan glitch.

Lokakarya, misalnya, bisa menjadi tempat pengunjung mencoba langsung praktik yang terkait dengan media baru. Pemutaran film memberi konteks historis pada seni video dan film eksperimental yang menjadi bagian dari pameran.

Pertunjukan menghadirkan dimensi lain, terutama karena seni media baru sering kali bersinggungan dengan tubuh, waktu, dan ruang. Talks melengkapi dengan diskusi yang lebih konseptual.

Bagaimana pengunjung di Riyadh akan merespons karya-karya yang berasal dari berbagai geografi Arab? Pameran ini menyatukan seniman dari kawasan MENA, sehingga pertemuan itu sendiri menjadi bagian dari pengalaman.

Diriyah menjadi lokasi pameran, sebuah kawasan yang dalam beberapa tahun terakhir menjadi tuan rumah berbagai kegiatan budaya. DAF sendiri menjadi institusi yang memayungi pameran besar keduanya ini.

Pameran berlangsung dari 21 April hingga 19 Juli 2025. Rentang waktu sekitar tiga bulan memberi kesempatan bagi pengunjung untuk mengikuti pameran sekaligus program publiknya.

Apakah durasi tiga bulan cukup untuk menyerap lebih dari 40 praktik seniman yang berbeda? Pameran tematik sering kali menuntut kunjungan berulang, terutama jika karya-karyanya berbasis waktu seperti video dan media yang diperluas.

Maknana disebut sebagai pameran besar kedua DAF. Artinya, ini bukan pameran pertama, dan posisinya menunjukkan arah kuratorial institusi tersebut dalam membangun wacana seni media baru di Arab Saudi.

Siaran pers tidak menyebutkan nama kurator, daftar lengkap seniman, atau jadwal rinci program publik. Informasi itu tidak ada dalam rilis yang dikutip SPA.

Siaran pers juga tidak menyebutkan harga tiket, jam buka, atau detail lokasi lebih spesifik di Diriyah. Semua itu belum diumumkan dalam materi yang tersedia.

Yang jelas, pameran ini mengangkat pertanyaan tentang bagaimana seniman Arab berhubungan dengan teknologi. Dari seni video awal hingga sistem generatif, dari film eksperimental hingga media yang diperluas, rentang itu menunjukkan bahwa keterlibatan dengan teknologi bukan hal baru.

Istilah Maknana, yang berarti otomasi, menjadi pusat pertanyaan itu. Otomasi bukan hanya soal mesin, tetapi juga soal bagaimana manusia menyerahkan sebagian proses kreatif dan kemudian mempertanyakannya kembali.

Empat bagian tematiknya menawarkan peta untuk membaca pertanyaan tersebut. Automation, Autonomy, Ripples, dan Glitch menjadi empat sudut pandang yang saling melengkapi.

Dengan lebih dari 40 seniman dari MENA, pameran ini menghadirkan keragaman geografis dan generasi. Keragaman itu menjadi salah satu alasan mengapa Maknana disebut sebagai survei langka.

Program publik berupa talks, pertunjukan, pemutaran, dan lokakarya memperluas pameran ke ranah pengalaman langsung. Pengunjung tidak hanya melihat karya, tetapi juga berinteraksi dengan para pelaku di bidang seni media baru.

Pameran berlangsung di DAF, Diriyah, Riyadh, dari 21 April hingga 19 Juli 2025. Itulah fakta-fakta yang disampaikan dalam siaran pers dan dikutip oleh kantor berita Saudi SPA.

Apa itu pameran Maknana yang diumumkan Diriyah Art Futures? Maknana: An Archaeology of New Media Art in the Arab World adalah pameran besar kedua Diriyah Art Futures (DAF). Pameran ini menghadirkan karya lebih dari 40 seniman dari kawasan MENA dan berlangsung dari 21 April hingga 19 Juli 2025 di DAF, Diriyah, Riyadh. Menurut siaran pers yang dikutip SPA, pameran ini menjadi survei langka atas keterlibatan seniman Arab dengan lanskap digital.

Apa makna istilah Maknana dalam pameran ini? Istilah Arab ‘Maknana’ diterjemahkan sebagai otomasi. Menurut siaran pers, istilah itu menginspirasi pertanyaan utama pameran: bagaimana seniman Arab menavigasi, memanfaatkan ulang, dan menantang teknologi untuk membentuk kosakata kreatif mereka sendiri. Otomasi di sini bukan sekadar soal mesin, melainkan pintu masuk untuk membaca hubungan seniman dengan teknologi.

Apa saja empat bagian tematik pameran Maknana? Pameran disusun dalam empat bagian tematik: Automation, Autonomy, Ripples, dan Glitch. Keempatnya melacak kekhawatiran dan gestur artistik yang berulang lintas generasi, geografi, dan paradigma teknologi yang berbeda. Automation dan Autonomy menyoroti ketegangan antara proses otomatis dan otonomi seniman, sementara Ripples dan Glitch menelusuri dampak yang menjalar serta gangguan sebagai bagian dari bahasa kreatif.

Karya seperti apa yang ditampilkan dalam pameran ini? Maknana membentang lintas dekade dan disiplin. Karya yang ditampilkan mencakup seni video awal, film eksperimental, sistem generatif, dan media yang diperluas. Menurut siaran pers, pameran ini menawarkan survei langka tentang bagaimana seniman Arab terlibat dengan dan membayangkan ulang lanskap digital dengan istilah mereka sendiri. Lebih dari 40 seniman dari kawasan MENA terlibat.

Apa program publik yang menyertai pameran Maknana? Sejalan dengan pameran, Diriyah Art Futures akan menyelenggarakan program publik berupa talks, pertunjukan, pemutaran film, dan lokakarya. Program itu memperluas tema Maknana dan menawarkan keterlibatan langsung pengunjung dengan para seniman serta pemikir di bidang seni media baru. Siaran pers tidak menyebutkan jadwal rinci program tersebut.

Kapan dan di mana pameran Maknana berlangsung? Pameran berlangsung dari 21 April hingga 19 Juli 2025 di Diriyah Art Futures (DAF) di Diriyah, Riyadh. Pengumuman disampaikan DAF melalui siaran pers, dan kantor berita Saudi SPA melaporkannya pada 13 April 2025. Siaran pers tidak menyebutkan harga tiket, jam buka, atau detail lokasi lebih spesifik di Diriyah.