Islamic Development Bank Group (IsDB Group) meluncurkan Member Country Partnership Strategy (MCPS) 2026–2030 untuk Republik Indonesia pada Kamis, dengan dukungan amplop pembiayaan indikatif sekitar US$2,56 miliar.
Seperti dilaporkan kantor berita Saudi SPA dari Jeddah pada 8 Oktober 2026, MCPS itu disusun bersama pemerintah Indonesia dan akan memandu dukungan IsDB Group terhadap prioritas pembangunan negara tersebut selama lima tahun ke depan.
Strategi itu berjudul “Supporting Inclusive and Sustainable Economic Transformation for a Prosperous and Resilient Indonesia” dan memiliki dua pilar. Pilar pertama, “Infrastructure for Connectivity, Resilience, and Industrial Upgrading,” mencakup transportasi dan konektivitas, ketahanan pangan dan pertanian, perikanan berkelanjutan dan ekonomi biru, ketahanan energi, serta transisi energi. Pilar kedua, “Developing the Workforce for Indonesia’s Next Stage of Transformation,” berfokus pada penguatan sistem kesehatan serta perluasan pendidikan dan pengembangan keterampilan.
Kedua pilar itu mencakup bidang lintas sektor yang berkaitan dengan keuangan Islam, aksi iklim, dan pemberdayaan perempuan dan pemuda. Strategi kemitraan tersebut selaras dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Indonesia 2025–2029 dan Kerangka Strategis 10 Tahun IsDB Group 2026–2035.
Kemitraan yang berlangsung hingga 2030 itu bertujuan meningkatkan konektivitas dan integrasi, memperkuat ketahanan sistem pangan dan energi, serta memperluas peluang bagi perempuan dan pemuda.
Angka US$2,56 miliar disebut sebagai amplop pembiayaan indikatif, bukan komitmen final yang sudah dicairkan. Istilah “indikatif” itu sendiri mengundang pertanyaan: seberapa besar dari angka tersebut yang benar-benar akan mengalir ke proyek, dan seberapa besar yang masih bergantung pada kesepakatan lanjutan antara IsDB Group dan pemerintah Indonesia?
Yang jelas dari rilis SPA, MCPS ini bukan dokumen yang berdiri sendiri. Ia disusun dalam kerja sama dengan pemerintah Indonesia, sehingga arah pembiayaan mengikuti prioritas yang sudah ditetapkan Jakarta. Pertanyaan berikutnya muncul: siapa yang menentukan urutan proyek dalam dua pilar tersebut, IsDB Group atau pemerintah Indonesia?
Pilar pertama menyentuh sejumlah sektor yang saling terkait. Transportasi dan konektivitas berdiri berdampingan dengan ketahanan pangan dan pertanian. Perikanan berkelanjutan dan ekonomi biru masuk dalam daftar yang sama dengan ketahanan energi dan transisi energi. Bukankah pengelompokan itu menunjukkan bahwa IsDB Group melihat pembangunan infrastruktur Indonesia sebagai satu paket yang tidak bisa dipisahkan?
Pilar kedua mengalihkan perhatian ke manusia. Sistem kesehatan yang lebih kuat serta pendidikan dan pengembangan keterampilan menjadi fokus. Jika infrastruktur dibangun tanpa tenaga kerja yang siap, apakah manfaatnya akan terserap sepenuhnya oleh perekonomian Indonesia?
Di atas kedua pilar itu, ada tiga bidang lintas sektor: keuangan Islam, aksi iklim, dan pemberdayaan perempuan dan pemuda. Keuangan Islam bukan hal baru bagi IsDB Group, yang memang beroperasi berdasarkan prinsip syariah. Namun, bagaimana instrumen keuangan Islam akan dipakai untuk membiayai proyek transisi energi atau perikanan berkelanjutan?
Aksi iklim disebut sebagai bidang lintas sektor, bukan pilar tersendiri. Apakah itu berarti pertimbangan iklim akan disisipkan ke setiap proyek, termasuk proyek transportasi dan energi, alih-alih menjadi program terpisah?
Pemberdayaan perempuan dan pemuda juga masuk sebagai bidang lintas sektor. Kemitraan ini secara eksplisit menyebut perluasan peluang bagi perempuan dan pemuda sebagai salah satu tujuannya. Pertanyaannya, bagaimana tujuan itu diterjemahkan menjadi program nyata di lapangan selama periode 2026–2030?
MCPS 2026–2030 disebut selaras dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Indonesia 2025–2029. Artinya, kerangka waktu IsDB Group dan kerangka waktu pemerintah Indonesia saling terkait, meski tidak identik. Apakah ketidaksesuaian tahun itu akan memengaruhi perencanaan proyek di tahun-tahun terakhir kemitraan?
Selain itu, strategi ini juga disebut selaras dengan Kerangka Strategis 10 Tahun IsDB Group 2026–2035. Jadi ada tiga lapisan waktu yang bertemu: rencana nasional Indonesia 2025–2029, MCPS 2026–2030, dan kerangka strategis IsDB Group 2026–2035. Bukankah menyelaraskan tiga horizon waktu sekaligus menjadi tantangan tersendiri bagi kedua pihak?
Kemitraan ini berlangsung hingga 2030. Tujuannya disebut tiga: meningkatkan konektivitas dan integrasi, memperkuat ketahanan sistem pangan dan energi, serta memperluas peluang bagi perempuan dan pemuda. Ketiganya cukup luas untuk mencakup banyak jenis kegiatan, dari jalan dan pelabuhan hingga irigasi, pembangkit listrik, layanan kesehatan, dan pelatihan keterampilan.
Namun, rilis SPA tidak merinci proyek mana yang akan dibiayai lebih dulu, berapa alokasi untuk masing-masing pilar, atau bagaimana dana US$2,56 miliar itu dibagi antara infrastruktur dan pengembangan sumber daya manusia. Rilis juga tidak menyebut instrumen pembiayaan apa saja yang akan digunakan, apakah pinjaman, pembiayaan syariah, hibah, atau kombinasi ketiganya.
Tidak ada pula keterangan tentang jadwal penandatanganan perjanjian pembiayaan konkret, daftar proyek prioritas, atau mekanisme pemantauan dan evaluasi. Nama pejabat yang menandatangani atau menghadiri peluncuran juga tidak disebutkan dalam rilis.
Yang tersedia hanyalah kerangka besar: dua pilar, tiga bidang lintas sektor, tiga tujuan kemitraan, dan satu angka indikatif US$2,56 miliar untuk periode 2026–2030. Bagi pembaca yang mengikuti hubungan ekonomi Saudi–Indonesia, peluncuran ini menandai langkah lanjutan IsDB Group di salah satu negara anggota terbesarnya. Pertanyaan yang tersisa adalah bagaimana kerangka ini akan terlihat ketika proyek-proyek pertama mulai berjalan.
Apa itu MCPS 2026–2030 yang diluncurkan IsDB Group untuk Indonesia? MCPS adalah Member Country Partnership Strategy yang disusun IsDB Group bersama pemerintah Indonesia untuk memandu dukungan selama lima tahun ke depan. Strategi ini berjudul “Supporting Inclusive and Sustainable Economic Transformation for a Prosperous and Resilient Indonesia” dan memiliki dua pilar, yaitu infrastruktur untuk konektivitas, ketahanan, dan peningkatan industri, serta pengembangan tenaga kerja. Kedua pilar mencakup bidang lintas sektor keuangan Islam, aksi iklim, dan pemberdayaan perempuan dan pemuda.
Berapa besar pembiayaan yang disiapkan dan apa statusnya? IsDB Group menyebut amplop pembiayaan indikatif sekitar US$2,56 miliar untuk mendukung strategi kemitraan dengan Indonesia. Angka itu disebut indikatif, sehingga bukan komitmen final yang sudah dicairkan. Rilis SPA tidak merinci alokasi per pilar, instrumen pembiayaan yang dipakai, jadwal penandatanganan perjanjian konkret, maupun daftar proyek prioritas yang akan dibiayai lebih dulu.
Sektor apa saja yang dicakup pilar pertama? Pilar pertama, “Infrastructure for Connectivity, Resilience, and Industrial Upgrading,” mencakup transportasi dan konektivitas, ketahanan pangan dan pertanian, perikanan berkelanjutan dan ekonomi biru, ketahanan energi, serta transisi energi. Kelima bidang itu dikelompokkan dalam satu pilar, yang menunjukkan pendekatan infrastruktur sebagai paket terpadu. Rilis SPA tidak menyebut proyek spesifik atau nilai pembiayaan untuk masing-masing bidang tersebut.
Apa fokus pilar kedua dan mengapa tenaga kerja ditekankan? Pilar kedua, “Developing the Workforce for Indonesia’s Next Stage of Transformation,” berfokus pada penguatan sistem kesehatan serta perluasan pendidikan dan pengembangan keterampilan. Penekanan pada tenaga kerja muncul karena infrastruktur yang dibangun perlu didukung sumber daya manusia yang siap agar manfaatnya terserap. Rilis SPA tidak merinci program kesehatan, pendidikan, atau pelatihan tertentu yang akan dijalankan dalam kerangka ini.
Bagaimana strategi ini selaras dengan rencana Indonesia dan IsDB Group? MCPS 2026–2030 disebut selaras dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Indonesia 2025–2029 dan Kerangka Strategis 10 Tahun IsDB Group 2026–2035. Artinya ada tiga horizon waktu yang bertemu: rencana nasional Indonesia, periode kemitraan MCPS, dan kerangka strategis IsDB Group. Rilis SPA tidak menjelaskan bagaimana perbedaan rentang tahun itu akan dikelola dalam perencanaan proyek.
Apa tujuan kemitraan ini hingga 2030? Kemitraan yang berlangsung hingga 2030 bertujuan meningkatkan konektivitas dan integrasi, memperkuat ketahanan sistem pangan dan energi, serta memperluas peluang bagi perempuan dan pemuda. Ketiga tujuan itu cukup luas untuk mencakup berbagai kegiatan, dari infrastruktur hingga layanan kesehatan dan pelatihan keterampilan. Rilis SPA tidak menyebut indikator keberhasilan, mekanisme pemantauan, atau nama pejabat yang terlibat dalam peluncuran tersebut.